TANGERANG, PUBLISIA.ID-Dunia sepak bola tanah air hari ini tidak kekurangan bakat, melainkan kekurangan wadah pembinaan yang tepat sejak akar rumput (grassroots).
Bergerak dari keresahan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Bina Bangsa Prodi Ilmu Komunikasi menginisiasi sebuah gerakan edukatif non-profit dengan menggelar sosialisasi dan coaching clinic bertajuk “Pengembangan Bakat dan Prestasi Generasi Muda dalam Sepak Bola”.
Agenda yang kental dengan semangat pengabdian masyarakat ini sukses diselenggarakan pada Kamis, 18 Juni 2026, di bawah terik matahari yang membakar semangat di Lapangan Bola Mitra Prima Sport Center, Cisoka-Kabupaten Tangerang.
Target audiensnya pun sangat spesifik: anak-anak lelaki usia 9–11 tahun, sebuah fase krusial yang sering disebut para akademisi sebagai golden age atau fase emas dalam pembentukan motorik dan mentalitas atlet.

Langkah taktis mahasiswa ini didasari oleh realitas bahwa banyak talenta daerah yang meredup sebelum berkembang akibat minimnya literasi taktik dan manajemen karier sepak bola sejak dini. Untuk menjembatani kesenjangan teori dan praktik tersebut, tim mahasiswa menggandeng Coach Alif Dafa Mahesa, seorang pelatih yang dikenal memiliki perhatian besar dan rekam jejak dalam memoles bakat-bakat muda.
Sejak peluit pertama ditiup pada pagi hari, atmosfer Lapangan Mitra Prima langsung berubah dinamis. Puluhan anak laki-laki dengan jersei warna-warni tampak berkerumun antusias, mendengarkan paparan awal yang dikemas interaktif oleh panitia mahasiswa sebelum akhirnya diserahkan kepada Coach Alif.
Dalam sesi edukasi deskriptifnya, Coach Alif Dafa Mahesa membedah mitos bahwa menjadi pemain hebat hanya modal bakat alam semata. Ia menekankan pentingnya cognitive footballing kemampuan berpikir cepat di dalam lapangan.
“Bakat tanpa disiplin dan pemahaman taktis itu seperti mobil sport tanpa kemudi. Di usia 9 sampai 11 tahun ini, anak-anak harus paham dasar spatial awareness (kesadaran ruang) dan decision making (pengambilan keputusan). Peran kita sebagai pelatih dan kakak-kakak mahasiswa di sini adalah menanamkan bahwa sepak bola itu dimainkan dengan kepala, baru kemudian dieksekusi dengan kaki,” papar Coach Alif di sela-sela sesi latihan.
Setelah pembekalan teori yang santai namun padat, kegiatan bergeser ke sesi taktikal di lapangan hijau. Anak-anak diajak langsung mempraktikkan simulasi small-sided games yang dirancang khusus oleh Coach Alif untuk melatih kerapian passing, kecepatan dribbling, serta komunikasi antarlini.
Mahasiswa tidak tinggal diam, mereka ikut turun ke lapangan bertindak sebagai fasilitator, mencatat perkembangan, dan memberikan asupan semangat moral bagi para peserta muda.
Adam Albani mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIBA selaku Ketua Pelaksana Kegiatan, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan manifestasi nyata dari peran mahasiswa sebagai agent of change.
“Kami di kampus sering mendiskusikan bagaimana komunikasi dan edukasi yang tepat bisa mengubah perilaku masyarakat. Hari ini, kami mengimplementasikan ilmu itu ke lapangan hijau Cisoka. Kami ingin adik-adik ini tahu bahwa jalan menjadi pemain profesional itu ada strukturnya, ada ilmunya, dan harus dimulai dengan cara yang benar. Kami sangat bersyukur Coach Alif Dafa Mahesa merespons niat baik kami dan bersedia turun langsung berbagi ilmu,” pungkasnya penuh optimisme.
Melalui kegiatan ini, pihak penyelenggara berharap langkah kecil yang diinisiasi di Kabupaten Tangerang ini mampu memantik kesadaran kolektif yang lebih besar bagi para pemangku kepentingan sepak bola lokal, orang tua, dan sekolah sepak bola (SSB) untuk terus bersinergi dalam membina talenta muda Indonesia secara saintifik dan berkelanjutan.
Program sosialisasi dan edukasi sepak bola usia dini ini merupakan proyek kolaboratif mahasiswa ilmu komunikasi yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor olahraga, kepemudaan, dan pemberdayaan komunitas lokal di wilayah Kabupaten Tangerang. ***



















