Home / Opini

Kamis, 3 September 2026 - 17:11 WIB

Tambakberas, Amanah Baru, dan Harapan Besar Nahdliyin

OLEH: H. WASIT AULAWI
Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni IPNU

Ada suasana yang selalu khas ketika Nahdlatul Ulama menyelesaikan sebuah muktamar. Ada lega, ada haru, ada rasa syukur, tetapi sekaligus ada kesadaran bahwa setelah forum tertinggi organisasi itu berakhir, pekerjaan yang sesungguhnya justru baru dimulai.

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, telah menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031. Keduanya ditetapkan melalui proses musyawarah mufakat dalam mekanisme Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA).

Bagi saya, keputusan ini tidak semata-mata soal pergantian kepemimpinan organisasi. Ia adalah momentum untuk kembali bertanya: NU hendak dibawa ke mana dalam lima tahun ke depan, dan kontribusi apa yang harus diberikan NU bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan?

Pertanyaan itu penting karena NU bukan organisasi biasa. NU adalah jam’iyyah yang tumbuh dari pesantren, dari tradisi keilmuan para kiai, dari kultur masyarakat, dan dari pengalaman panjang mendampingi perjalanan bangsa Indonesia. Sejarah NU menunjukkan bahwa khidmah keagamaan tidak pernah dipisahkan dari tanggung jawab kebangsaan.

Tambakberas dan Pesan yang Lebih Dalam
Pilihan Tambakberas sebagai tempat Muktamar ke-35 memiliki makna simbolik yang kuat. Pondok Pesantren Bahrul Ulum bukan sekadar tempat berlangsungnya forum organisasi.

Tambakberas adalah salah satu simpul penting tradisi pesantren dan sejarah NU. Bahkan, penetapan Tambakberas sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 merupakan hasil pencarian jalan tengah setelah dinamika penentuan lokasi berlangsung cukup alot.

Di tempat yang memiliki akar sejarah panjang itu, NU kembali memperlihatkan watak dasarnya: berbeda tanpa harus berpecah, berkompetisi tanpa harus bermusuhan, dan bermusyawarah untuk menemukan jalan terbaik.
Inilah salah satu pelajaran penting dari Muktamar ke-35.

Setelah keputusan diambil, seluruh warga NU semestinya kembali kepada satu rumah besar: Nahdlatul Ulama. Tidak ada lagi kelompok yang menang dan kelompok yang kalah. Yang ada adalah satu amanah besar yang harus dijalankan bersama. Karena dalam tradisi NU, jabatan bukanlah mahkota. Jabatan adalah amanah dan khidmah.

Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU membawa harapan agar jajaran syuriyah terus menjadi penjaga arah moral, keagamaan, dan tradisi keilmuan NU.

Kiai Miftahul Akhyar tentu menghadapi tantangan yang tidak ringan. NU hidup di tengah masyarakat yang berubah sangat cepat. Perkembangan teknologi digital, perubahan sosial, dinamika ekonomi, fragmentasi politik, pergeseran otoritas keagamaan, hingga munculnya berbagai bentuk ekstremisme dan disinformasi merupakan persoalan nyata yang membutuhkan panduan keulamaan yang kokoh sekaligus bijaksana.

Syuriyah harus menjadi kompas, bukan sekadar struktur organisasi. Ia harus memberikan arah ketika warga NU menghadapi perubahan zaman yang semakin kompleks.

Kita berharap kepemimpinan Kiai Miftah mampu terus menjaga ruh Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah: tawassuth, tawazun, tasamuh dan i’tidal; sekaligus menghidupkan kembali semangat tradisi keilmuan pesantren yang mendalam, moderat, terbuka, dan berakar pada khazanah ulama.

NU tidak boleh kehilangan akar ketika bergerak menuju masa depan. Sebab modernitas tanpa akar dapat membuat manusia kehilangan identitas, sementara tradisi tanpa kemampuan membaca perubahan dapat membuat organisasi kehilangan relevansi. NU membutuhkan keduanya: akar yang kuat dan pandangan yang jauh ke depan.

Baca Juga  Empat Penyair Sahabat Nabi Muhamad

Sementara itu, terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU menghadirkan harapan baru bagi jajaran tanfidziyah. Sebagai pimpinan pelaksana organisasi, Ketua Umum PBNU menghadapi pekerjaan besar untuk menerjemahkan nilai, keputusan, dan arah besar NU ke dalam program nyata.

Sebelum ditetapkan melalui AHWA, Gus Kikin memperoleh dukungan terbanyak dalam penjaringan bakal calon Ketua Umum, dengan 472 suara dari unsur PWNU, PCNU, dan PCINU.

Angka tersebut tentu bukan sekadar statistik. Ia merupakan bentuk kepercayaan dari struktur organisasi NU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan jaringan internasional.

Karena itu, harapan kepada Gus Kikin juga besar. Tanfidziyah PBNU ke depan harus mampu menjadikan NU semakin kuat secara kelembagaan, profesional dalam tata kelola, mandiri secara ekonomi, adaptif terhadap teknologi, dan nyata manfaatnya bagi masyarakat. Kita membutuhkan NU yang tidak hanya ramai dalam wacana, tetapi hadir dalam persoalan konkret umat.

Pendidikan harus diperkuat. Pesantren harus diberdayakan. Ekonomi warga harus dikembangkan. Kaderisasi harus diperluas. Pelayanan sosial harus ditingkatkan. Digitalisasi organisasi harus dipercepat. Dan jejaring internasional NU harus dimanfaatkan untuk memperkuat kontribusi Indonesia bagi perdamaian dunia. Dengan demikian, kebesaran NU tidak hanya diukur dari jumlah warga dan luasnya struktur organisasi, tetapi dari seberapa besar kemaslahatan yang dirasakan masyarakat.

NU dan Masa Depan Nahdliyin
Harapan terbesar tentu berada pada warga NU sendiri. Nahdliyin di tingkat akar rumput adalah kekuatan sesungguhnya dari jam’iyyah ini. Mereka yang istiqamah menghadiri pengajian, menjaga tradisi tahlilan, membaca maulid, menghidupkan masjid dan mushala, mengurus madrasah, membesarkan pesantren, mendampingi masyarakat, serta menjaga hubungan baik dengan sesama warga bangsa.

Mereka adalah wajah NU yang sebenarnya. Karena itu, kepemimpinan PBNU harus semakin dekat dengan kebutuhan nahdliyin. Jangan sampai kebesaran struktur organisasi justru membuat suara warga di bawah semakin jauh dari pusat pengambilan keputusan.

NU harus tetap menjadi organisasi yang mendengar sebelum berbicara, melayani sebelum dilayani, dan merangkul sebelum menghakimi. Kita berharap lima tahun ke depan menjadi masa konsolidasi sekaligus akselerasi. Konsolidasi untuk memperkuat persatuan internal, dan akselerasi untuk memperbesar manfaat NU bagi masyarakat.

Sudah waktunya energi NU lebih banyak diarahkan kepada agenda besar: meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat ekonomi umat, meningkatkan kapasitas generasi muda, membangun kemandirian pesantren, memperluas pelayanan kesehatan dan sosial, serta memperkuat literasi digital warga.

Sebagai bagian dari keluarga besar kaderisasi IPNU, saya melihat bahwa masa depan NU juga sangat ditentukan oleh bagaimana generasi muda dipersiapkan hari ini. NU membutuhkan anak-anak muda yang menguasai kitab kuning sekaligus teknologi digital; yang mencintai tradisi tetapi tidak takut terhadap inovasi; yang memiliki kedalaman spiritual tetapi juga kompetensi profesional; yang mampu berkomunikasi secara global tetapi tetap berakar kuat pada budaya pesantren.

Baca Juga  Kiyai Kuat dan Bermartabat: Pilar Peradaban Banten

Kita tidak boleh membiarkan generasi muda NU hanya menjadi penonton perubahan. Mereka harus menjadi pelaku. Karena itu, kaderisasi tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Kaderisasi harus menghasilkan generasi yang memiliki integritas, kapasitas, loyalitas, kreativitas, dan keberanian mengambil tanggung jawab. IPNU dan IPPNU, GP Ansor dan Fatayat NU, PMII, perguruan tinggi NU, pesantren, serta seluruh ekosistem pendidikan NU harus menjadi ruang persemaian generasi masa depan.
Jika NU ingin kuat seratus tahun ke depan, maka investasi terbaiknya hari ini adalah investasi pada manusia.

NU untuk Indonesia yang Lebih Maju
Pada akhirnya, NU tidak dapat memisahkan dirinya dari perjalanan Indonesia.
Sejak awal berdirinya, NU telah mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, membangun masyarakat, merawat persatuan, dan menjaga keseimbangan antara Islam dan kebangsaan. Tantangan Indonesia hari ini memang berbeda.

Kita menghadapi persoalan ketimpangan, kualitas sumber daya manusia, perubahan iklim, transformasi teknologi, kecerdasan buatan, persaingan ekonomi global, krisis etika digital, dan perubahan demografi. Karena itu, kontribusi NU juga harus berkembang.

NU harus menjadi kekuatan moral sekaligus kekuatan sosial yang ikut memastikan bahwa pembangunan Indonesia tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghadirkan keadilan, keberlanjutan, pemerataan, dan kemanusiaan.
Indonesia yang maju bukan hanya Indonesia yang memiliki gedung-gedung tinggi dan teknologi canggih. Indonesia yang maju adalah Indonesia yang manusianya berilmu, berakhlak, sejahtera, toleran, produktif, dan mampu hidup berdampingan dalam keragaman.

Di sinilah nilai-nilai NU memiliki relevansi yang sangat besar. Dari Tambakberas untuk Kemaslahatan yang Lebih Luas Muktamar telah selesai. Kini saatnya seluruh warga NU mengakhiri perbedaan pilihan dan menyatukan kembali langkah.
Kepada KH Miftachul Akhyar, kita titipkan harapan agar syuriyah PBNU terus menjadi penjaga tradisi keilmuan, moralitas, dan arah perjuangan jam’iyyah.

Kepada Gus Kikin, kita titipkan harapan agar tanfidziyah PBNU mampu menerjemahkan nilai-nilai luhur NU menjadi kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh nahdliyin dan masyarakat luas.

Dan kepada seluruh jajaran PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU, ranting hingga anak ranting, mari kita jadikan Muktamar ke-35 sebagai titik berangkat untuk bekerja lebih sungguh-sungguh.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan NU bukanlah seberapa meriah muktamarnya, bukan pula seberapa banyak jabatan yang terisi. Ukuran keberhasilan NU adalah seberapa banyak kemaslahatan yang lahir dari keberadaan NU.

Semoga dari Tambakberas lahir energi baru untuk memperkuat Islam Ahlussunnah wal Jamaah, memperkokoh tradisi pesantren, memajukan pendidikan, menguatkan ekonomi umat, membesarkan generasi muda, merawat persatuan bangsa, dan menghadirkan Indonesia yang maju secara berkelanjutan.

Semoga amanah ini menjadi jalan khidmah.
Semoga perbedaan menjadi kekuatan.
Semoga kebesaran NU semakin berbanding lurus dengan besarnya manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Selamat mengemban amanah, Kiai Miftahul Akhyar dan Gus Kikin.

Dari Tambakberas, kita menatap masa depan.
Untuk NU yang lebih teduh, lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih bermanfaat.
Untuk nahdliyin yang istiqamah menjaga amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah.
Untuk Indonesia yang maju, adil, bermartabat, dan berkelanjutan.**

Share :

Baca Juga

Opini

Menjemput Merdeka yang Sesungguhnya di Banten

Opini

Paradigma Baru Pembangunan SDM Indonesia: Micro-Experience Led Development

Opini

Wajib Belajar 12 Tahun di Banten: Antara Janji Kebijakan dan Realitas Ketimpangan

Opini

Membaca Ulang Kartini: Antara Ide dan Batas Sosial

Opini

Dari Zonasi ke Dapur: Jalan Cerdas Pesantren

Opini

Arsitektur Madani Sekolah Berbasis Masjid Berasrama

Opini

Negara Berutang Pada Pesantren

Opini

Kiyai Kuat dan Bermartabat: Pilar Peradaban Banten