Home / Opini

Kamis, 22 Januari 2026 - 11:05 WIB

Predictive History: Membaca Visi Geopolitik Awal Islam Era Makkah

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.

Dekan FKIP UNTIRTA

Alif Lām Mīm. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat; dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang, dalam beberapa tahun. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman. (QS. Ar Rum: 1-4)

Sejarah dalam perspektif Al-Qur’an tidak sekadar menceritakan masa lalu, tetapi membuka jendela masa depan. Ayat-ayat tentang bangsa-bangsa terdahulu adalah sarana pendidikan peradaban agar umat mampu membaca arah zaman. Inilah yang dapat disebut sebagai Predictive History berbasis wahyu: cara memahami sejarah dengan bimbingan ilahi untuk membangun visi masa depan.

Wahyu tidak hanya menilai apa yang telah terjadi, tetapi juga menanamkan orientasi ke mana umat harus melangkah. Al-Qur’an mengajak manusia menelusuri jejak peradaban agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Dengan demikian, sejarah menjadi laboratorium pembelajaran sosial. Dari sanalah lahir kesadaran profetik tentang naik-turunnya kekuasaan. Umat Islam sejak awal dididik untuk berpikir jauh ke depan.

Peristiwa Persia dan Romawi adalah contoh paling kuat dari Predictive History dalam Al-Qur’an. Ketika Nabi Muhammad ﷺ masih berdakwah di Makkah, Romawi Timur mengalami kekalahan telak dari Persia. Secara geopolitik, Romawi berada di titik nadir. Kaum Quraisy bergembira karena Persia yang musyrik mengalahkan Romawi yang beragama samawi. Sebaliknya, kaum Muslim bersedih karena merasa lebih dekat secara iman dengan Romawi. Dalam situasi inilah wahyu turun membawa perspektif yang melampaui logika politik biasa. Al-Qur’an menyatakan bahwa Romawi, setelah kalah, justru akan menang kembali dalam beberapa tahun. Ini bukan sekadar berita, tetapi latihan mental peradaban.

Al Quran surat Ar-Rūm tampil sebagai “teks masa depan”. Di saat fakta menunjukkan Romawi runtuh, wahyu memprediksi kebangkitannya. Ini mengajarkan umat Islam untuk tidak terjebak pada realitas sesaat. Kekalahan hari ini tidak otomatis berarti kehancuran esok hari. Justru dari titik nadir sering lahir lompatan besar. Wahyu menanamkan optimisme strategis, bukan utopia kosong. Umat dilatih membaca sejarah secara visioner. Mereka diajak memahami bahwa Allah mengatur perjalanan bangsa-bangsa dengan hukum-hukum sosial yang konsisten. Sejarah bergerak menurut sunnatullah.

Kebangkitan Romawi menjadi contoh konkret pola “naik setelah runtuh”. Kekalahan telak dari Persia memaksa Romawi melakukan refleksi mendalam. Krisis menjadi titik konsolidasi. Mereka menata ulang kepemimpinan, keuangan, dan militer. Kekalahan tidak ditangisi, tetapi dijadikan bahan evaluasi peradaban. Inilah pelajaran besar: bangsa yang menjadikan krisis sebagai cermin, bukan sebagai kuburan, akan menemukan jalan kebangkitan. Romawi belajar dari luka-lukanya. Dari situlah energi baru lahir.

Baca Juga  Pemprov Banten dan Kejati Kolaborasi, Perkuat Pencegahan Hukum Percepatan Koperasi Merah Putih

Faktor penting dalam kebangkitan Romawi adalah kepemimpinan Kaisar Heraklius. Ia tidak bersembunyi di balik istana, tetapi memimpin langsung pasukan di medan perang. Ia memotong gaya hidup mewah, memulihkan moral tentara, dan membangun kembali disiplin. Kepemimpinan visioner seperti ini menjadi mesin penggerak perubahan. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban bangkit bukan karena sistem semata, tetapi karena pemimpin yang berani mengambil risiko. Heraklius hadir sebagai simbol harapan baru. Dari figur inilah Romawi menemukan kembali kepercayaan diri kolektif.

Selain kepemimpinan, Romawi melakukan reformasi internal. Strategi militer diubah menjadi lebih mobile dan adaptif. Mereka tidak mengulang pola lama yang gagal, tetapi berani berinovasi. Inilah ciri peradaban yang hidup: mau belajar dan berubah. Romawi juga membangun narasi ideologis bahwa perang melawan Persia adalah perjuangan mempertahankan kehormatan dan iman. Narasi makna ini membangkitkan militansi dan loyalitas. Kebangkitan besar selalu ditopang oleh nilai, bukan hanya logistik.

Sementara Romawi berbenah, Persia justru terlena oleh kemenangan. Mereka terlalu percaya diri, wilayah melebar tanpa konsolidasi, dan beban administrasi semakin berat. Ini menunjukkan pola lain: kemenangan yang tidak disertai kebijaksanaan akan melahirkan kelalaian. Yang menang hari ini bisa kalah besok jika berhenti belajar. Di sinilah sunnatullah bekerja: kekuasaan berpindah kepada yang lebih siap secara moral, intelektual, dan organisatoris. Romawi bangkit karena belajar, Persia runtuh karena lupa belajar.

Bagi umat Islam di Makkah, kisah ini bukan sekadar geopolitik global. Ia menjadi pendidikan mental peradaban. Komunitas kecil yang tertindas diajak memandang dunia dengan cakrawala luas. Mereka tidak boleh terkurung dalam penderitaan lokal, tetapi harus memahami bahwa mereka bagian dari sejarah global. Wahyu membentuk mereka sebagai subjek sejarah, bukan objek pasif. Dari Makkah yang sempit, pandangan diarahkan ke panggung dunia. Inilah cara wahyu membesarkan jiwa umat sebelum membesarkan kekuasaan mereka.

Di sinilah inti pendidikan sejarah berbasis wahyu: membaca masa depan dengan kacamata iman dan ilmu. Wahyu tidak mematikan akal, tetapi menajamkannya. Umat diminta mengamati pola, menarik hukum sosial, lalu merancang masa depan. Sejarah menjadi sumber strategi, bukan nostalgia. Al-Qur’an mengajarkan bahwa siapa yang tidak belajar dari masa lalu akan tersesat di masa depan. Iman dan nalar dipadukan untuk membangun visi peradaban.

Baca Juga  Budaya Inovasi: Penggerak Kampus Berdampak

Dalam konteks dakwah Nabi, predictive history menanamkan optimisme strategis. Umat Islam tidak diajarkan bermimpi tanpa kerja, tetapi berharap sambil bersiap. Mereka membangun akhlak, ilmu, dan organisasi secara bertahap. Visi global ditanamkan sejak fase Makkah, jauh sebelum kekuasaan diraih. Ini menunjukkan bahwa peradaban besar lahir dari visi jauh hari. Romawi menjadi cermin: yang berani berbenah di saat paling terpuruk, akan menuai kemenangan di masa depan.

Pola ini relevan sepanjang zaman. Banyak bangsa hari ini merasa terpuruk dan kehilangan arah. Namun sejarah mengajarkan bahwa kejatuhan bukan akhir cerita. Yang menentukan adalah apakah krisis dijadikan titik refleksi atau titik kehancuran. Romawi memilih refleksi, lalu reformasi, lalu kebangkitan. Umat Islam pun diajarkan menempuh jalan yang sama. Dalam setiap kesulitan ada hukum Allah yang bekerja. Tugas manusia adalah membaca hukum itu dan menyesuaikan diri dengannya.

Bagi umat Islam di Indonesia hari ini, predictive history berarti keberanian membaca tanda-tanda zaman. Dunia berubah cepat: teknologi, budaya, dan geopolitik bergerak dinamis. Kita tidak boleh menjadi penonton. Kisah Romawi mengajarkan bahwa peradaban yang hidup adalah yang mau belajar, berbenah, dan membangun makna. Pendidikan harus melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi visioner. Kepemimpinan harus melahirkan keberanian moral, bukan sekadar manajemen teknis.

Dengan demikian, predictive history berbasis wahyu adalah fondasi mental peradaban Islam sejak era Makkah. Dari komunitas kecil yang tertindas, lahir visi global yang membentuk peradaban dunia. Kisah Persia dan Romawi bukan hanya cerita masa lalu, tetapi cermin masa depan. Wahyu mengajarkan bahwa di balik runtuhnya satu kekuatan, selalu ada peluang kebangkitan bagi yang siap. Umat Islam disiapkan untuk menyongsong dunia dengan iman, ilmu, dan visi. Dari Makkah yang sunyi, lahirlah pandangan peradaban yang mengubah sejarah.

“Wahai Allah, Pemilik seluruh kerajaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu segala kebaikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 26). (*)

Share :

Baca Juga

Opini

Sastra dan Kritik Sosial: Teladan Sulayk al-Ghatafānī

Opini

Empat Penyair Sahabat Nabi Muhamad

Opini

Ketika Keserakahan Manusia Menjelma Bencana Mematikan

Opini

Muhammad dan Kontra Geopolitik Global

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Pemimpin Sezaman

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Ahli Kitab

Opini

Meniru Bahtera Peradaban Nabi Nuh

Opini

Zona Abu-abu Hukum di Indonesia