Home / Opini

Selasa, 17 Maret 2026 - 12:51 WIB

Kiyai Kuat dan Bermartabat: Pilar Peradaban Banten

Oleh: Dr. KH. Anang Azhari Alie, M.Pd.

(Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Presidium FSPP Banten)

Banten sejak lama dikenal sebagai tanah para ulama dan pusat tumbuhnya pesantren. Dari desa ke kota, ribuan pesantren hadir menyatu dengan denyut nadi masyarakat.

Di sanalah, sosok kiai tidak hanya dipandang sebagai guru agama, tetapi juga sebagai penggerak arah sosial, penengah konflik, hingga penjaga moral publik. Mereka adalah fondasi dan pilar peradaban khususnya di Provinsi Banten.

Namun, di tengah kebanggaan itu, ada kegelisahan yang perlu kita baca dengan jujur. Jalan kepesantrenan dan keulamaan mulai dipandang sebagian orang sebagai jalan hidup yang berat, identik dengan kemiskinan, dan tidak menjanjikan masa depan. Stigma ini sangat berbahaya.

Ketika pesantren terus diidentikkan dengan keterbatasan ekonomi dan ketergantungan pada proposal, sementara di sisi lain, jabatan struktural selalu identik dengan fasilitas mewah, pengawalan ketat, dan kemewahan, maka orientasi generasi muda kita pun ikut bergeser.

Yang dikejar bukan lagi ilmu dan integritas, melainkan akses menuju kekuasaan. Jika dibiarkan, Banten berisiko besar kehilangan kekuatan moralnya sendiri.

Rasulullah SAW telah memberi prinsip yang sangat tegas dalam sabdanya yang cukup terkenal:

المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف

(Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah)

Hadis ini sangat relevan untuk membaca ulang posisi kiai di Banten hari ini. Kuat di sini tidak sekadar bermakna fisik, melainkan kekuatan iman, ilmu, ekonomi, mental, dan pengaruh sosial.

Islam tidak hanya memuliakan kebaikan yang datang dari kelemahan, melainkan kebaikan yang mampu menjaga dan menggerakkan perubahan.

Standar Ganda yang Tidak Adil

Baca Juga  Hari Santri Nasional: Tantangan dan Harapan

Mari kita lihat realitas di sekitar kita. Seorang pejabat publik wajar menggunakan kendaraan dinas mewah, didampingi pengawalan, dan menikmati fasilitas negara yang semuanya bersumber dari APBD. Hal ini diterima sebagai konsekuensi logis dari sebuah jabatan.

Namun, ketika seorang kiai hidup layak dari usaha pribadi yang halal, memiliki kendaraan yang aman dan nyaman untuk menunjang kesehatan serta keamanan dakwahnya, justru sering kali muncul cibiran.

Seolah-olah ada standar ganda yang mengakar: seorang kiai harus hidup dalam kesederhanaan yang mendekati kekurangan agar dianggap saleh dan sejati.

Ini adalah sebuah ketidakadilan. Kiai tidak hidup dari uang rakyat. Mereka tidak menggunakan fasilitas negara, dan umumnya tidak memegang jabatan struktural.

Maka, secara etika, seorang kiai yang mandiri secara ekonomi justru jauh lebih terhormat. Kemandirian itu membebaskan dakwahnya dari berbagai tekanan dan potensi ketergantungan.

Mewujudkan Kiai Kuat dan Bermartabat

Banten memiliki ribuan pesantren yang menjadi tulang punggung pendidikan umat. Namun, pesantren tidak bisa terus bertahan hanya dengan mengandalkan romantisme pengabdian.

Lembaga ini membutuhkan figur kiai yang kuat dan bermartabat. Bukan untuk pamer kemewahan, tetapi untuk menjaga wibawa pesantren itu sendiri dan menarik minat generasi terbaik bangsa.

Sudah waktunya kita membangun narasi baru tentang kiai. Narasi tentang sosok mukmin kuat yang kita rindukan, yang saya rangkum dalam 5 K:

Pertama, Kaya Budi: Berakhlak mulia, meneduhkan, dan senantiasa dekat dengan umat.

Kedua,  Kaya Ilmu: Memiliki kedalaman ilmu agama yang relevan dengan tantangan zaman, baik sebagai wilayah industri, agraris, maupun pesisir.

Ketiga,  Kaya Harta: Mandiri secara ekonomi agar pesantren tidak selalu berada dalam posisi meminta, melainkan mampu memberi.

Baca Juga  Tragedi Utsman: Kerja Politik Belah Bambu dan Politisasi Agama

Keempat , Kaya Jiwa: Sehat secara mental dan spiritual sehingga mampu memimpin umat dengan tenang dan bijaksana.

Kelima,  Kaya Jasa: Memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan pembangunan daerah.

Inilah terjemahan nyata dari konsep mukmin kuat dalam konteks pesantren Banten.

Penggerak Masa Depan Banten Yang Beradab

Pembangunan Banten tidak hanya membutuhkan kemajuan fisik, tetapi juga ketahanan moral dan sosial. Kiai yang kuat akan mampu:

– Menjaga pesantren tetap independen dari tarik-menarik politik praktis.

– Menjadi mitra kritis bagi pemerintah, bukan sekadar ornamen simbolik dalam acara-acara seremonial.

– Melahirkan generasi santri yang percaya diri dan mampu menghadapi dunia modern.

– Memastikan nilai-nilai Islam tetap hidup dan menjadi pemandu di tengah arus industrialisasi yang kerap meminggirkan moralitas.

Jika kiai terus dilemahkan, baik secara ekonomi maupun martabat, maka pesantren akan terpinggirkan. Akibatnya, provinsi ini akan kehilangan salah satu pilar penting pembangunan karakter masyarakatnya. Sebaliknya, jika kiai diperkuat, pesantren akan menjelma menjadi pusat peradaban lokal yang kokoh dan disegani.

Sudah waktunya kita membongkar stigma lama. Kesalehan tidak identik dengan kemiskinan. Seorang kiai tidak harus hidup dalam keterbatasan agar dihormati. Yang dibutuhkan Banten hari ini adalah sosok kiai yang kuat dan berintegritas: sosok yang mampu, sehat, aman, mandiri, dan tetap membumi.

Sebagaimana sabda Nabi, mukmin yang kuat lebih dicintai Allah. Maka, mari kita dukung terwujudnya kiai Banten yang kuat dalam budi, ilmu, harta, jiwa, dan jasa. Karena merekalah kunci masa depan peradaban Banten menuju pesantren yang bermartabat, umat yang percaya diri, dan daerah yang berkarakter.

Pojok Inspirasi – Al-Mizan 2026

Share :

Baca Juga

Opini

Negara Berutang Pada Pesantren

Opini

Serikat Dagang Pesantren: Dari Konsumen Menuju Penggerak Ekonomi Umat

Opini

SIKLUS SUKSES PESANTREN: Integrasi Filantropi, Keilmuan, dan Regenerasi Strategis

Opini

FSPP Banten: Mitra Strategis Pemerintah dalam Pembangunan

Opini

Menjemput Keberkahan: Integrasi Akuntansi dan Neraca Spiritual dalam Praktik Zakat pada Bulan Ramadan

Opini

Lima Tahun Pertama Dakwah Islam di Makkah

Opini

Ramadhan Bulan Kepedulian Pesantren Melalui  Keadilan Anggaran

Opini

Pergolakan Lima Tahun Kedua Dakwah Nabi di Makkah