Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Dekan FKIP UNTIRTA
Memasuki tahun keenam kenabian, dakwah Nabi Muhammad ﷺ di Makkah bergerak dari konsolidasi internal menuju konfrontasi terbuka. Lima tahun pertama telah melahirkan fondasi kokoh melalui pembinaan rahasia di rumah Al-Arqam ibn Abi al-Arqam. Di ruang sederhana itu, kader-kader awal ditempa dengan tauhid, disiplin, dan solidaritas moral. Strategi tertutup ini membangun massa kritis yang siap tampil di ruang publik. Ketika dakwah diumumkan secara terbuka, reaksi Quraisy meningkat tajam. Polarisasi sosial tidak lagi tersembunyi. Identitas iman berhadapan langsung dengan struktur ekonomi dan kehormatan kabilah. Fase ini menjadi titik balik dari pembinaan sunyi menuju pergolakan terbuka.
Dalam tekanan yang mengeras, Nabi berdoa agar Allah menguatkan Islam melalui salah satu dari dua figur kuat Quraisy: Umar ibn al-Khattab atau Abu Jahl. Doa itu menjadi inti kisah protagonis dan antagonis. Umar akhirnya masuk Islam dan mengubah peta psikologis Makkah. Sebaliknya, Abu Jahl—yang bernama asli Amr bin Hisham—semakin keras memimpin oposisi. Kontras ini mempertegas garis demarkasi antara keberanian moral dan resistensi kekuasaan. Masuknya Umar memberi keberanian kolektif untuk tampil di sekitar Ka’bah. Komunitas yang sebelumnya tertekan kini menemukan daya tawar baru.
Namun oposisi tidak hanya datang dari Abu Jahl. Di lingkaran keluarga sendiri, Abu Lahab tampil sebagai penentang paling vokal. Ia adalah paman Nabi, tetapi memilih berdiri di barisan penolak. Bersama istrinya, Ummu Jamil, ia aktif menyebarkan kebencian dan fitnah. Sikap Abu Lahab memperlihatkan bahwa konflik dakwah bukan sekadar pertentangan luar, tetapi juga luka dari dalam keluarga. Dalam konteks sosial Arab, ini pukulan simbolik yang berat. Kabilah yang seharusnya melindungi justru terbelah. Abu Lahab bahkan menarik dukungan terhadap Bani Hasyim dalam solidaritas kesukuan. Peran antagonistiknya melengkapi tekanan struktural yang dipimpin Abu Jahl.
Kehadiran Umar dan Hamzah bin Abdul Muthalib memperkuat posisi umat Islam secara terbuka. Mereka menjadi simbol keberanian dan perlindungan moral. Umat Islam mulai shalat di sekitar Ka’bah tanpa sembunyi. Kepercayaan diri kolektif meningkat. Namun keberanian ini memantik konsolidasi oposisi. Abu Jahl menggagas boikot sosial-ekonomi terhadap Bani Hasyim dan kaum Muslim. Dokumen perjanjian digantung di Ka’bah sebagai legitimasi publik. Strategi ini bertujuan mengisolasi Nabi dan memaksa Abu Talib menyerah.
Abu Talib bukan Muslim, tetapi ia berdiri sebagai pelindung Nabi. Solidaritas kesukuan membuatnya mempertahankan keponakannya meski tekanan berat datang dari Quraisy, termasuk dari Abu Lahab yang memisahkan diri. Syi‘b Abi Talib menjadi ruang isolasi selama tiga tahun. Akses ekonomi diputus, hubungan sosial dibekukan. Tangisan anak-anak terdengar di malam sunyi lembah itu. Dalam kesempitan, solidaritas internal justru menguat. Khadijah mengorbankan hartanya untuk menopang logistik. Abu Bakar memanfaatkan jejaring sosialnya untuk membuka jalur bantuan tersembunyi. Ketahanan ini menjadi bukti resiliensi berbasis iman.
Pada saat yang sama, Nabi mengambil langkah visioner dengan mengirim delegasi ke Habasyah. Hijrah ini dipimpin oleh Ja’far ibn Abi Talib menuju perlindungan Raja Najashi. Diplomasi Ja’far menekankan nilai keadilan dan kemanusiaan Islam. Sementara itu, utusan Quraisy berusaha membujuk Najasyi agar mengusir para Muslim. Namun diplomasi kebencian gagal. Najasyi menolak tekanan itu dan memberi perlindungan. Langkah ini menjadi bab penting internasionalisasi dakwah.
Di tengah pergolakan itu, dimensi keluarga Nabi menghadirkan warna emosional yang dalam. Zainab binti Muhammad tetap beriman meski suaminya, Abul Ash bin Rabi’, belum memeluk Islam. Quraisy menekan agar hubungan itu diputus. Namun Abul ‘Ash menolak menceraikannya. Cinta mereka bertahan di tengah polarisasi. Konflik struktural tidak sepenuhnya menghancurkan relasi personal. Pada akhirnya, Abul ‘Ash masuk Islam dan bersatu kembali dengan Zainab. Kisah ini menjadi simbol bahwa iman dan cinta dapat bertemu dalam kesabaran.
Boikot akhirnya runtuh ketika nurani sebagian Quraisy terusik. Dokumen yang digantung di Ka’bah rusak, kecuali nama Allah. Tekanan publik dan rasa kemanusiaan mengikis koalisi penindas. Komunitas Muslim keluar dari isolasi dengan identitas lebih kokoh. Namun ujian belum selesai. Tahun Kesedihan datang dengan wafatnya Khadijah dan Abu Talib. Nabi kehilangan penopang emosional dan politik sekaligus. Perlindungan kesukuan melemah.
Pergolakan lima tahun kedua ini memperlihatkan bahwa dakwah Nabi bergerak dalam dialektika aksi dan reaksi. Doa Nabi melahirkan Umar sebagai penguat, sementara Abu Jahl dan Abu Lahab menjadi simbol resistensi. Boikot, hijrah ke Habasyah, dan Tahun Kesedihan membentuk rangkaian ujian yang saling terkait. Dari sudut pandang perubahan sosial, fase ini menunjukkan pentingnya fondasi internal sebelum ekspansi eksternal. Dakwah di Makkah bukan hanya kisah spiritual, tetapi juga pelajaran strategis tentang kepemimpinan, konflik, dan ketahanan nilai. Wallahu a’lam.














