Home / Opini

Kamis, 1 Januari 2026 - 22:23 WIB

Peran Strategis Pesantren dalam Recovery Mental Korban Bencana

Oleh : H. Wari Syadeli, M.Si
(Sekertaris Dewan Pakar FSPP Banten &
Penasehat Gerakan Kemanusiaan Ayoo Cepat Tolong)

Peristiwa bencana meninggalkan duka yang sangat dalam bagi para korban selain rusaknya rumah mereka juga kehilangan orang-orang dekat yang sangat berarti baginya.

Dalam kondisi keterpurukan jiwa korban bencana, kehadiran layanan Psikososial dapat memberikan ketenangan bagi penyintas.

Konseling dalam bentuk individu maupun kelompok sangat efektif mereduksi trauma pada korban dan beragam penelitian membuktikan layanan Psikososial dan konseling efektif mengatasi PTSD, Kecemasan dan depresi.

Penanganan bencana alam seringkali hanya menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan fisik seperti logistik, hunian sementara, air bersih dan layanan kesehatan, sementara dampak psikologis jangka panjang terkadang terabaikan.

Trauma healing banyak dikembangkan dalam psikososial pasca bencana untuk memulihkan kembali pemulihan emosional dan jiwa, selain orang dewasa anak-anak pun dapat menjadi korban.

Membangun kembali rasa aman, kepercayaan diri dengan pendekatan suportif dan spiritual dapat berdampak pada penguatan mental penyintas menjalani kehidupan pasca bencana.
Gangguan stres pasca bencana (post – traumatic stress disorder /PTSD), kecemasan umumnya di alami para penyintas bencana baik dewasa maupun anak-anak.

Mengapa para Penyintas bencana membutuhkan pendampingan bantuan psikososial? Dalam situasi darurat pasca bencana, semua penyintas (korban yang selamat) sangatlah membutuhkan dukungan kesehatan jiwa psikososial.

Melalui pemberian bantuan psikologis Pertama (PFA) dapat membantu menstabilkan emosi para penyintas yang berdampak membangkitkan kembali semangat hidup normal dalam situasi yang berbeda dengan sebelumnya.

Ricky Firmansyah, S.Psi, M.Si seorang Praktisi Pelatihan PFA menjelaskan bahwa Psychological First Aid (PFA) adalah pendekatan dukungan psikologis awal yang bertujuan membantu penyintas krisis atau bencana alam agar merasa aman, lebih tenang, tidak sendirian, kembali merasa mampu dan memiliki orientasi kedepan yang realistis.
Tujuannya adalah menurunkan distress psikologis akut, mencegah dampak psikologis jangka panjang, menguatkan faktor protektif individu dan sosial dan menghubungkan penyintas dengan sumber daya bantuan yang dibutuhkan.

Kontribusi apa yang bisa diberikan oleh Pesantren dalam mengatasi problem gangguan psikologis korban bencana?

FSPP Banten sebagai lembaga organisasi pesantren yang besar dengan anggota 4600 Pesantren di Banten Bersama Gerakan Kemanusiaan Ayoo Cepat Tolong dan LAZ Harfa bekali 15 Santri dan 20 relawan kemanusiaan dengan Ilmu PFA.

Melalui Diskusi dan pelatihan Pertolongan Psikologis Pertama/ Psychological Firts Aid yang diselenggarakan di M-Kostel Serang Banten pada 29-30 Desember, FSPP Banten turut berperan aktif menempatkan pesantren sebagai garda depan Recovery Mental Korban Bencana.

Baca Juga  Resmi! Mulai 2026 RKUD Pandeglang Dikelola Bank Banten

Apa Peran Pesantren pada Recovery Mental?

Dalam pendekatan Ilmu PFA salah satunya adalah model PFA RAPID, yakni Raport & Reflective Listening, Assessment, Prioritization, Intervention and Disposition.

Pada sisi Intervention yang bertujuan menurunkan stres dan mengendalikan emosi.
Modal spiritualitas yang kuat di Pesantren dapat menjadi bekal bagi para santri melakukan intervensi pendekatan spiritual yakni dengan pesan- pesan agama.

Salah satunya adalah Alqur’an, ada banyak beragam penelitian yang membuktikan membaca, mendengarkan dan memahami Al-Quran dapat memberikan ketenangan dan mengurangi hormon stres.

Lantunan suara Al-Qur’an dapat menurunkan hormon stres yaitu hormon kortisol, mengaktifkan endorfin secara alami, adanya perasaan rileks, dan membantu menghilangkan rasa takut, cemas dan tegang, serta membantu memperbaiki sistem kimiawi tubuh sehingga terjadinya keseimbngan pada parameter tekanan darah, sistem pernapasan, detak jantung, denyut nadi dan aktivitas gelombang otak. Alunan nada Al-Qur’an memiliki pengaruh terhadap sekresi endorfin dengan mempengaruhi otak dan merangsang gelombang alfa. Sehingga dapat menurunkan stres, menghilangkan emosi negatif, menciptakan relaksasi, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh (Almerud & Petersson, 2003)

Suara dari terapi Al-Qur’an adalah gelombang suara yang memasuki sirkuit akustik primer melalui telinga luar. Sirkuit akustik primer manusia melibatkan saraf pendengaran, batang otak, tubuh geniculate medial thalamus dan korteks pendengaran. Keterlibatan fungsi-fungsi pada otak dalam berbagai aspek pada gelombang suara dari alunan ayat suci Al-Qur’an: amogdala, cingulate gyrus dan orbitofrontal cortex medial terlibat dalam pemrosesan perilaku emosional. Karena struktur ini ditemukan memiliki proyeksi pendengaran, aktivitas otak yang utamanya pada lobus frontal yaitu, mengaktifkan gyrus frontal inferior, area brodmann inferior neocortex, insula superior anterior, ventral striatum, gyrus heschl, serta rolandic operculum (Nizamie & Tikka, 2014).

Al-Qur’an sebagai Obat Penyembuh juga terdapat dalam beberapa ayat didalam Al-Qur’an.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Yunus, 57).

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Ar-Ra’d, 28).

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (Al-Israa, 82).

“kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan” (An-Nahl, 69).

Baca Juga  Raih Doktor di Usia 25 Tahun di UGM, Warga Tigaraksa Rizky Aflaha Bocorkan Rahasia Suksesnya

“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku” (Ash-Shu’araa, 80).

“Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”” (Fussilat, 44).

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Al-A’raaf, 204).

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (Saad, 29).

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Al-Fath, 4).

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Aal-Imran, 191).

Kesimpulan

Gangguan psikologis pasca bencana adalah problem yang perlu diatasi agar dapat memberikan rasa aman dan menguatkan kepercayaan diri para penyintas bencana.

Perkembangan ilmu psikologi dalam mengembangkan ilmu Pertolongan Psikologis Pertama (PFA) adalah teknik komunikasi yang efektif dalam berkomunikasi dengan penyintas guna memberikan rasa aman.

Pada aspek intervensi khususnya bagi korban bencana yang beragama Islam dapat dilakukan dengan pendekatan spiritual salah satunya adalah pendekatan Alqur’an.

Pesantren sebagai lembaga tafaquh fiddin dapat mengambil peran dengan segala potensi yang dimilikinya dalam penanganan recovery mental bagi korban Bencana dengan pendekatan PFA melalui intervensi spiritual dapat menjadi garda terdepan dalam recovery mental, oleh karena peran FSPP Banten sangat strategis dalam menggerakkan dan mempersiapkan santri dan alumni pesantren yang siap diturunkan dalam aksi kerelawanan khususnya pada fase Recovery Mental.**

Share :

Baca Juga

Opini

Sastra dan Kritik Sosial: Teladan Sulayk al-Ghatafānī

Opini

Empat Penyair Sahabat Nabi Muhamad

Opini

Ketika Keserakahan Manusia Menjelma Bencana Mematikan

Opini

Predictive History: Membaca Visi Geopolitik Awal Islam Era Makkah

Opini

Muhammad dan Kontra Geopolitik Global

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Pemimpin Sezaman

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Ahli Kitab

Opini

Meniru Bahtera Peradaban Nabi Nuh