Home / Opini

Selasa, 20 Januari 2026 - 10:45 WIB

Muhammad dan Kontra Geopolitik Global

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.

Dekan FKIP UNTIRTA

Kehadiran Nabi Muhammad saw. di panggung sejarah tidak pernah berada dalam ruang hampa. Risalah Islam lahir di tengah peta geopolitik dunia yang dikuasai dua imperium besar: Romawi Timur dan Persia Sasaniyah. Dakwah Nabi bukan hanya pesan spiritual, tetapi juga peristiwa politik global. Ia mengguncang tatanan lama yang dibangun di atas kekuasaan, kesukuan, dan keangkuhan peradaban. Karena itu, respons para penguasa dunia tidak pernah netral. Kesaksian terhadap Muhammad sering kali justru muncul dalam bentuk penolakan. Sejarah menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu diterima dengan sambutan, tetapi sering dengan perlawanan.

Kesaksian kadang diterima dengan penyangkalan. Penyangkalan bukan berarti ketidaktahuan, melainkan sering kali bentuk pengakuan negatif. Orang yang menolak biasanya telah memahami, tetapi tidak mau tunduk. Dalam konteks geopolitik, penolakan adalah cara mempertahankan kekuasaan. Muhammad saw. membawa pesan tauhid yang meruntuhkan hierarki palsu. Semua manusia setara di hadapan Allah. Bagi para kaisar, pesan ini bukan sekadar agama, tetapi ancaman ideologis. Karena itu, mereka bereaksi dengan keras.

Salah satu contoh paling jelas adalah Kaisar Persia. Namanya adalah Kisra Aparwiz (Khosrow II), penguasa Kekaisaran Sasaniyah. Ketika menerima surat Nabi Muhammad saw. sekitar tahun 7 H, Kisra tidak membacanya dengan tenang. Ia justru merobek surat itu dengan sombong. Ia merasa terhina karena seorang Nabi dari bangsa Arab berani mengirim surat kepadanya. Reaksi ini bukan sekadar emosi pribadi. Ia mencerminkan keangkuhan geopolitik Persia yang merasa sebagai pusat peradaban dunia. Kisra menolak bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau tunduk.

Penolakan Kisra justru menjadi bentuk kesaksian negatif terhadap nubuwah Muhammad. Ia tahu bahwa ini bukan surat biasa. Ia tahu bahwa pengirimnya membawa misi besar. Karena itu ia marah. Nabi saw. ketika mendengar tindakan itu berkata, “Semoga Allah merobek kerajaannya sebagaimana ia merobek suratku.” Sejarah mencatat bahwa beberapa tahun kemudian Persia runtuh dari dalam. Dinasti Sasaniyah terpecah oleh konflik internal. Penolakan terhadap kebenaran justru mempercepat kehancuran kekuasaan.

Baca Juga  Milad ke-23 FSPP, Wagub Dimyati Ajak Perkuat Kepedulian Sosial dan Solidaritas

Dalam konteks geopolitik, Persia berada di kutub yang berseberangan dengan Romawi. Persia menganut agama Majusi (Zoroastrianisme) dengan sistem kekaisaran absolut. Sementara Romawi Timur menganut Kristen, meski telah bercampur dengan kepentingan politik. Ketika Persia dikalahkan oleh Heraklius pada awal abad ke-7, umat Islam justru merasa lebih dekat secara emosional kepada Romawi. Bukan karena Romawi sempurna, tetapi karena mereka masih berada dalam tradisi tauhid. Al-Qur’an sendiri menyinggung kemenangan Romawi sebagai kabar yang menggembirakan bagi kaum beriman.

Kedekatan emosional umat Islam dengan Romawi menunjukkan bahwa Islam tidak memandang dunia secara biner: “Arab vs non-Arab”. Yang menjadi ukuran adalah nilai tauhid dan kemanusiaan. Persia yang Majusi lebih jauh secara teologis dibanding Romawi yang Ahlul Kitab. Maka ketika Heraklius menang atas Persia, kaum Muslimin merasa ada titik temu peradaban. Ini adalah geopolitik nilai, bukan geopolitik ras atau wilayah. Muhammad saw. memetakan dunia bukan dengan peta kekuasaan, tetapi dengan peta akidah dan keadilan.

Namun bukan berarti semua penguasa Romawi menerima Nabi. Heraklius memang mengakui kebenaran Muhammad dalam hati, tetapi tidak berani mengikuti secara terbuka. Ini menunjukkan bahwa geopolitik bukan hanya soal perang, tetapi juga soal ketakutan kehilangan tahta. Para pemimpin tahu kebenaran, tetapi terikat oleh struktur kekuasaan. Mereka terjebak antara nurani dan stabilitas politik. Di sinilah Islam tampil sebagai kontra-hegemonik: melawan dominasi kekuasaan yang tidak mau tunduk pada nilai ilahi.

Selain Kisra dan Heraklius, ada pula penguasa regional yang merasa terancam oleh risalah Nabi, seperti Harits bin Abi Syamir al-Ghassani, penguasa wilayah Ghassan di Syam. Ia berada di bawah naungan Romawi. Ketika menerima surat Nabi, ia bereaksi dengan marah. Ia bahkan berniat menyerang Madinah. Bagi Harits, Islam bukan hanya agama baru, tetapi ancaman terhadap struktur kekuasaan lokal yang ia nikmati. Ia melihat Muhammad bukan sebagai Nabi, tetapi sebagai pesaing politik.

Harits bin Abi Syamir adalah contoh bagaimana risalah tauhid dipersepsi sebagai subversif oleh elite kekuasaan. Muhammad saw. tidak membawa pasukan saat mengirim surat, tetapi membawa pesan. Namun pesan itu cukup kuat untuk mengguncang para penguasa. Mereka tahu bahwa jika rakyat mengikuti Muhammad, legitimasi lama akan runtuh. Maka mereka memilih menutup pintu dialog. Penolakan ini kembali menjadi kesaksian tidak langsung bahwa Muhammad membawa perubahan besar.

Baca Juga  Diskoumperindag Kabupaten Serang Gelar Pelatihan Ecoprint Bagi 25 Warga Binaan Rutan Kelas II B Serang

Dari Kisra hingga Harits, terlihat bahwa kontra geopolitik terhadap Muhammad bukan karena risalahnya lemah, tetapi justru karena ia kuat. Pesan tauhid membongkar fondasi kekuasaan yang dibangun di atas keturunan, kasta, dan kekerasan. Islam datang dengan konsep umat, bukan imperium. Islam datang dengan keadilan, bukan aristokrasi. Maka wajar jika para kaisar merasa terganggu. Mereka membaca masa depan dalam risalah Muhammad, dan mereka takut.

Sejarah membuktikan bahwa ketakutan itu beralasan. Dalam beberapa dekade setelah wafat Nabi, wilayah Persia dan Syam berada di bawah pemerintahan Islam. Bukan karena ekspansi brutal, tetapi karena struktur lama telah rapuh. Kekuasaan yang dibangun tanpa keadilan tidak punya daya tahan. Islam datang bukan sekadar mengganti penguasa, tetapi mengganti paradigma. Dunia tidak lagi dipimpin oleh darah biru, tetapi oleh amanah dan takwa.

Dalam perspektif ini, Muhammad saw. adalah aktor spiritual yang mengubah peta geopolitik global. Ia tidak membawa peta militer, tetapi membawa wahyu. Ia tidak membangun imperium dengan pedang, tetapi dengan nilai. Para kaisar mungkin menolak, tetapi sejarah justru mengafirmasi kebenaran risalahnya. Penyangkalan mereka berubah menjadi pengakuan tidak langsung melalui runtuhnya sistem lama. Dunia bergerak mengikuti cahaya yang mereka tolak.

Maka, kontra oligarki geopolitik global terhadap risalah Islam adalah pelajaran abadi. Kebenaran sering ditolak oleh kekuasaan, tetapi selalu dimenangkan oleh sejarah. Kisra merobek surat Nabi, tetapi kerajaannya yang robek. Harits mengancam Madinah, tetapi pengaruhnya yang lenyap. Muhammad saw. tetap melangkah dengan risalah, bukan retorika. Dan dunia, cepat atau lambat, selalu bersujud pada kebenaran yang datang dari Tuhan. Wallahu a’lam.

Share :

Baca Juga

Opini

Sastra dan Kritik Sosial: Teladan Sulayk al-Ghatafānī

Opini

Empat Penyair Sahabat Nabi Muhamad

Opini

Ketika Keserakahan Manusia Menjelma Bencana Mematikan

Opini

Predictive History: Membaca Visi Geopolitik Awal Islam Era Makkah

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Pemimpin Sezaman

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Ahli Kitab

Opini

Meniru Bahtera Peradaban Nabi Nuh

Opini

Zona Abu-abu Hukum di Indonesia