Home / Opini

Minggu, 22 Februari 2026 - 14:42 WIB

Lima Tahun Pertama Dakwah Islam di Makkah

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Dekan FKIP UNTIRTA

Pada bulan Ramadan yang diperkirakan bertepatan dengan Agustus tahun 610 M, Muhammad menerima wahyu pertama di Gua Hira, dekat Makkah. Peristiwa itu bukan sekadar pengalaman spiritual individual, melainkan awal dari perubahan sejarah dunia. Namun momentum agung itu diawali dengan keguncangan psikologis yang manusiawi. Beliau pulang dalam keadaan gemetar, membawa beban pengalaman yang melampaui nalar biasa.

Di titik ini, tidak ada selebrasi atau ekspansi dakwah, justeru Nabi melakukan proses validasi diri. Kenabian tidak diumumkan sebagai slogan, tetapi dihayati sebagai amanah. Ramadan menjadi ruang perenungan yang mendalam, bukan euforia publik. Dari sini tampak bahwa kepemimpinan profetik dimulai dari ketenangan batin sebelum gerakan sosial. Lima tahun pertama dakwah Islam di Makkah adalah fase fondasi, bukan fase ledakan. Di dalamnya terdapat proses penguatan iman, pengaturan strategi, dan pembangunan jejaring yang terukur. Sejarah besar itu dimulai dengan keheningan yang penuh kesadaran.

Validasi pertama datang dari rumah. Khadijah menenangkan beliau dengan argumentasi rasional dan moral yang kokoh. Ia mengingatkan bahwa suaminya adalah sosok jujur, penyambung silaturahim, penolong yang lemah, dan penjaga amanah. Validasi ini penting karena meneguhkan integritas personal sebagai dasar legitimasi kenabian. Khadijah tidak berhenti pada empati emosional. Ia membawa beliau kepada Waraqah bin Nawfal, seorang pencari kebenaran yang memahami tradisi kenabian sebelumnya.

Waraqah mengonfirmasi bahwa yang datang adalah wahyu Ilahi, sebagaimana dialami para nabi terdahulu. Proses ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual diverifikasi melalui rujukan keilmuan. Kepemimpinan profetik lahir dari keseimbangan antara pengalaman batin dan pengakuan epistemik. Sejak saat itu, misi kenabian berdiri di atas keyakinan yang teruji. Fase ini adalah fondasi psikologis dan intelektual sebelum langkah sosial dimulai.

Setelah wahyu pertama, terjadi masa jeda yang dikenal sebagai fatrah al-wahy. Masa hening ini bukan kekosongan, melainkan pematangan batin. Dalam periode tersebut, Nabi menginternalisasi makna peristiwa yang baru dialaminya. Tekanan mental dan kerinduan akan wahyu menjadi ujian keteguhan. Lalu turun wahyu kedua, awal Surah Al-Muddatstsir, yang memerintahkan bangkit dan memberi peringatan. Jika “Iqra’” bersifat personal, maka “Qum fa-andzir” bersifat publik dan misioner. Di sinilah arah dakwah mulai jelas. Perintah itu menandai pergeseran dari kontemplasi menuju aksi. Strategi dakwah pun mulai dirancang dengan hati-hati. Kepemimpinan yang matang selalu lahir dari perenungan yang cukup. Masa hening menjadi ruang penyusunan visi dan kesadaran sejarah.

Baca Juga  Masjid Berdaya Umat Sejahtera

Tiga tahun pertama dakwah dilakukan secara rahasia. Strategi ini bukan karena takut, tetapi karena kebutuhan membangun inti yang solid. Perubahan sosial yang radikal tidak bisa dimulai tanpa fondasi kokoh. Orang pertama yang menerima risalah adalah Khadijah, diikuti Ali bin Abi Talib dan Zaid bin Haritsah. Lingkaran awal ini menunjukkan bahwa transformasi dimulai dari keluarga dan orang terdekat. Dakwah bersandar pada relasi kepercayaan, bukan mobilisasi massa. Nilai tauhid ditanamkan secara mendalam, bukan sekadar diperkenalkan. Kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas. Fase ini membangun ketahanan mental komunitas kecil. Dari rumah sederhana lahir kesadaran peradaban.

Peran strategis kemudian diambil oleh Abu Bakar. Ia menjadi simpul jejaring sosial yang efektif di tengah masyarakat Quraisy. Melalui relasinya, masuk tokoh-tokoh penting seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan Zubair bin Awwam. Ini menunjukkan bahwa dakwah awal menyentuh kalangan elite ekonomi dan sosial. Islam tidak lahir sebagai gerakan marginal semata. Jejaring Abu Bakar memperluas spektrum sosial komunitas Muslim. Relasi persahabatan berubah menjadi jalur kaderisasi. Strategi ini memperkuat legitimasi sosial dakwah. Lima tahun pertama adalah fase konsolidasi lintas kelas.

Selain kalangan elite, dakwah juga menyentuh kelompok rentan. Nama seperti Bilal bin Rabah dan Ammar bin Yasir menjadi simbol keberanian iman. Tauhid membongkar struktur sosial yang timpang. Pesan kesetaraan mengguncang sistem perbudakan dan hierarki kabilah. Komunitas Muslim sejak awal merepresentasikan keberagaman sosial. Inilah fondasi etika keadilan dalam Islam. Lima tahun pertama telah menunjukkan wajah inklusif gerakan ini. Iman menjadi sumber keberanian moral. Dakwah membangun solidaritas lintas status sosial. Ini adalah revolusi nilai yang bekerja perlahan namun mendalam.

Pusat kaderisasi utama pada fase ini adalah rumah Al-Arqam bin Abi al-Arqam. Di sana ayat-ayat Al-Qur’an dipelajari dan dihafalkan. Pendidikan dilakukan dalam lingkaran kecil yang intens. Model ini melahirkan kedalaman spiritual dan intelektual. Halaqah menjadi ruang pembentukan karakter. Komunitas dibangun dengan disiplin dan kesabaran. Lima tahun pertama adalah masa pembentukan identitas kolektif. Setiap individu dipersiapkan untuk menghadapi tekanan sosial. Dari ruang sederhana lahir manusia-manusia tangguh. Inilah sekolah pertama peradaban Islam.

Memasuki tahun keempat, dakwah mulai bergerak ke ruang publik. Seruan di Bukit Shafa menandai perubahan strategi. Reaksi keras segera muncul dari elite Quraisy. Penolakan tidak lagi bersifat personal, tetapi politis dan struktural. Ancaman terhadap stabilitas ekonomi dan tradisi kabilah menjadi alasan perlawanan. Namun fondasi tiga tahun pertama membuat komunitas tidak mudah goyah. Kepemimpinan Nabi tetap tenang dan terukur. Ia tidak merespons dengan kekerasan, tetapi dengan konsistensi pesan. Strategi bertahap menunjukkan kecerdasan membaca konteks. Transformasi sosial memerlukan momentum yang tepat.

Baca Juga  Nafas Masjid dalam Kehidupan Kampus

Tekanan kemudian berubah menjadi penyiksaan fisik terhadap pengikut yang lemah. Bilal disiksa di padang pasir dengan batu besar di dadanya. Namun ia tetap mengucapkan “Ahad, Ahad.” Pada saat itulah solidaritas internal diuji. Abu Bakar menebus dan membebaskannya dengan hartanya. Ia juga membebaskan beberapa budak Muslim lainnya. Pengorbanan ini bukan simbolik, tetapi konkret. Jejaring tidak hanya memperluas pengaruh, tetapi melindungi. Iman diterjemahkan menjadi tindakan sosial. Lima tahun pertama menunjukkan bahwa solidaritas adalah energi komunitas.

Menariknya, sebelum masuknya Hamzah bin Abdul Muttalib dan Umar bin Khattab pada tahun keenam kenabian, komunitas sudah cukup solid. Artinya kekuatan awal Islam bukan bergantung pada figur kuat semata. Fondasi iman dan jejaring sudah terbentuk. Ketika dua tokoh itu masuk Islam, mereka masuk ke dalam struktur yang matang. Ini menunjukkan pentingnya fase pembinaan sunyi. Kepemimpinan profetik tidak tergesa-gesa mencari legitimasi politik. Ia membangun manusia terlebih dahulu. Lima tahun pertama adalah masa penanaman akar. Pohon besar tumbuh dari fondasi yang tak terlihat.

Secara sosiologis, fase ini memperlihatkan strategi perubahan yang organik. Dakwah dimulai dari lingkaran inti, lalu meluas melalui jejaring kepercayaan. Relasi keluarga, persahabatan, dan pendidikan saling menopang. Perubahan tidak dipaksakan, tetapi ditumbuhkan. Nabi membaca struktur sosial Makkah dengan cermat. Ia memahami bahwa nilai tauhid akan mengguncang sistem lama. Karena itu, konsolidasi internal didahulukan. Lima tahun pertama adalah fase manajemen risiko. Tekanan eksternal dihadapi dengan penguatan internal. Inilah model kepemimpinan berbasis visi dan ketahanan.

Dari perspektif kepemimpinan, lima tahun pertama dakwah di Makkah adalah laboratorium pembentukan karakter dan strategi. Validasi diri, penguatan jejaring, dan kaderisasi intensif menjadi tiga pilar utama. Ramadan 610 M bukan hanya awal wahyu, tetapi awal manajemen perubahan. Nabi membangun gerakan dari kesadaran spiritual menuju solidaritas sosial. Ia memadukan keteguhan iman dengan kecerdasan membaca konteks. Kepemimpinan tidak dimulai dari sorotan publik, tetapi dari integritas pribadi. Sejarah membuktikan bahwa fondasi sunyi itu melahirkan peradaban besar. Lima tahun pertama adalah masa pembentukan arsitektur Islam. Dari sana, gelombang perubahan menyebar melampaui Makkah menuju dunia.***

Share :

Baca Juga

Opini

Menjemput Keberkahan: Integrasi Akuntansi dan Neraca Spiritual dalam Praktik Zakat pada Bulan Ramadan

Opini

Ramadhan Bulan Kepedulian Pesantren Melalui  Keadilan Anggaran

Opini

Pergolakan Lima Tahun Kedua Dakwah Nabi di Makkah

Opini

Teologi Infrastruktur Kota dalam Narasi Al-Qur’an

Opini

Sastra dan Kritik Sosial: Teladan Sulayk al-Ghatafānī

Opini

Empat Penyair Sahabat Nabi Muhamad

Opini

Ketika Keserakahan Manusia Menjelma Bencana Mematikan

Opini

Predictive History: Membaca Visi Geopolitik Awal Islam Era Makkah