Home / Opini

Minggu, 11 Januari 2026 - 15:53 WIB

Inisiatif Menghidupkan Peradaban Buku

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Dekan FKIP

Peradaban besar selalu lahir dari tradisi baca dan tulis yang kuat. Sejarah umat manusia membuktikan bahwa ilmu berkembang melalui teks yang diwariskan. Di tengah dunia yang masih diramaikan oleh hasrat ekspansi wilayah, seperti wacana Amerika Serikat mencaplok Greenland, kita diingatkan bahwa logika kekuasaan lama belum benar-benar usang. Perebutan ruang fisik masih menjadi orientasi banyak bangsa. Namun Denmark justru menempuh jalan berbeda sejak tahun 2024. Negara ini memilih kembali menguatkan buku teks sebagai fondasi pendidikan. Pilihan ini menegaskan bahwa peradaban sejati dibangun melalui pikiran, bukan penaklukan.

Dalam satu dekade terakhir, pendidikan global terlalu optimistis pada digitalisasi. Layar menggantikan halaman, dan kecepatan mengalahkan kedalaman. Informasi berlimpah, tetapi pemahaman justru menipis. Banyak peserta didik tahu banyak hal secara sepintas. Namun mereka kesulitan menalar secara runtut dan reflektif. Denmark membaca gejala ini sebagai masalah struktural. Maka sejak 2024, arah pendidikan mulai diluruskan kembali.

Membaca buku melatih konsentrasi jangka panjang secara alami. Otak manusia tidak dirancang untuk terus berpindah fokus. Buku memaksa pembaca bertahan dalam satu alur pemikiran. Proses ini membangun ketahanan atensi dan kesabaran intelektual. Konsentrasi adalah fondasi semua pembelajaran bermutu. Tanpa konsentrasi, ilmu hanya menjadi informasi lepas. Inilah alasan buku kembali dimuliakan.

Dari sudut pandang neurosains, membaca buku menguatkan memori jangka panjang. Informasi yang dibaca secara runtut lebih mudah disimpan otak. Buku membantu hippocampus menyusun ingatan secara terstruktur. Berbeda dengan informasi digital yang bersifat terpotong. Membaca buku membuat pengetahuan lebih melekat dan tahan lama. Inilah yang dibutuhkan dunia pendidikan hari ini. Bukan sekadar tahu, tetapi benar-benar memahami.

Baca Juga  INISIATIF DAPUR PESANTREN: Laboratorium Gizi dan Kedaultan Pangan Berbasis Komunitas

Membaca buku juga memperkaya kosakata dan struktur bahasa. Bahasa adalah alat utama berpikir manusia. Semakin kaya kosakata, semakin tajam nalar seseorang. Buku menyediakan konteks makna yang utuh bagi bahasa. Kata hidup dalam gagasan dan pengalaman. Dari sinilah kemampuan berpikir abstrak tumbuh. Krisis membaca sejatinya adalah krisis berpikir.

Namun peradaban buku tidak berhenti pada aktivitas membaca. Ia harus dilanjutkan dengan budaya menulis. Menulis adalah proses mengolah bacaan menjadi pengetahuan baru. Di dalam menulis, gagasan diuji dan disistematisasi. Peradaban ilmu lahir dari teks yang ditulis. Tanpa menulis, ilmu akan mandek. Karena itu membaca dan menulis harus berjalan seiring.

Dalam konteks perguruan tinggi, peran dosen sangat menentukan. Dosen tidak cukup hanya menyampaikan materi di kelas. Ia harus menuliskan hasil riset dan pemikirannya. Hasil penelitian dosen idealnya dibukukan sebagai buku referensi. Buku menjadi warisan intelektual lintas generasi. Dari sinilah ilmu berkembang secara berkelanjutan. Peradaban ilmu tumbuh dari dosen yang menulis.

Peran guru tidak kalah strategis dalam peradaban buku. Guru adalah penghubung langsung ilmu dengan peserta didik. Karena itu guru tidak cukup hanya menggunakan buku yang tersedia. Guru perlu menulis buku daras untuk murid-muridnya sendiri. Buku tersebut disesuaikan dengan konteks lokal dan kebutuhan belajar. Dengan demikian pembelajaran menjadi lebih relevan. Guru yang menulis adalah guru yang berpikir.

Ketika dosen menulis buku referensi dan guru menulis buku ajar, ekosistem ilmu terbentuk. Ilmu mengalir dari kampus ke sekolah secara alami. Pengetahuan tidak berhenti di jurnal atau laporan penelitian. Ia hadir di ruang kelas dan kehidupan nyata. Inilah wajah peradaban yang berlawanan dengan logika pencaplokan wilayah. Greenland menjadi simbol perebutan ruang, sementara buku adalah simbol perebutan makna. Denmark membaca pentingnya pertempuran makna ini sejak 2024.

Baca Juga  Mulia Bersama Al-Qur’an

Kebijakan Denmark kembali ke buku teks tidak berarti anti-teknologi. Teknologi tetap digunakan secara proporsional. Namun buku ditempatkan sebagai fondasi pembelajaran. Teknologi berfungsi sebagai alat bantu berpikir. Bukan pengganti nalar manusia. Keseimbangan inilah yang ingin dipulihkan. Pendidikan modern memerlukan kebijaksanaan, bukan euforia.

Indonesia dapat belajar dari arah kebijakan tersebut. Gerakan menghidupkan peradaban buku harus dimulai dari kebijakan pendidikan. Guru dan dosen perlu diberi ruang untuk menulis. Waktu membaca harus dilindungi secara sistemik. Tanpa dukungan kebijakan, literasi hanya slogan. Budaya baca dan tulis tidak tumbuh spontan. Ia perlu dirawat dan diarahkan.

Perpustakaan harus kembali menjadi jantung sekolah dan kampus. Buku tidak boleh sekadar pajangan. Membaca harus menjadi kebiasaan, bukan paksaan. Menulis perlu dibiasakan sejak dini. Membaca membangun kedalaman berpikir. Menulis membangun keberlanjutan ilmu. Keduanya saling menguatkan peradaban.

Menghidupkan peradaban buku berarti menghidupkan peradaban ilmu. Buku mengajarkan manusia berpikir perlahan, runtut, dan mendalam. Di tengah dunia yang masih sibuk berebut wilayah dan sumber daya, buku menawarkan jalan sunyi namun menentukan. Sejak 2024, Denmark telah memberi contoh koreksi arah peradaban.

Kini pilihan ada pada kita untuk meneguhkan jalan ilmu. Pada tahun 2026, FKIP UNTIRTA memberikan dukungan nyata bagi kelompok pakar dosen menulis buku referensi melalui kolaborasi riset bersama peneliti BRIN dan PTN lain, serta penulisan buku pelajaran bersama guru bersertifikat dari sekolah mitra. Dari sinilah peradaban buku diharapkan tumbuh berkelanjutan. (*)

Share :

Baca Juga

Opini

Sastra dan Kritik Sosial: Teladan Sulayk al-Ghatafānī

Opini

Empat Penyair Sahabat Nabi Muhamad

Opini

Ketika Keserakahan Manusia Menjelma Bencana Mematikan

Opini

Predictive History: Membaca Visi Geopolitik Awal Islam Era Makkah

Opini

Muhammad dan Kontra Geopolitik Global

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Pemimpin Sezaman

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Ahli Kitab

Opini

Meniru Bahtera Peradaban Nabi Nuh