Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Dekan FKIP UNTIRTA
Perjuangan Islam bukan hanya dakwah di mimbar atau jihad di medan perang. Sejak awal, risalah ini juga bergerak melalui kata, makna, dan keindahan bahasa. Dalam masyarakat Arab, sastra adalah media utama pembentuk opini. Syair mampu mengangkat martabat dan menjatuhkan kehormatan. Karena itu Rasulullah ﷺ tidak menutup ruang bagi seni bahasa. Beliau justru mengarahkannya agar berpihak pada kebenaran. Dari sinilah lahir peran strategis para sahabat Nabi dari kalangan penyair.
Dalam tradisi Arab, penyair adalah juru bicara sosial. Mereka menyuarakan kegelisahan, kritik, dan harapan masyarakat. Ketika Islam datang, fungsi ini tidak dihapus, tetapi dimurnikan. Sastra yang dulu dipakai untuk fanatisme suku diarahkan menjadi sarana dakwah. Bahasa tidak lagi memuja kesombongan, tetapi menegakkan keadilan. Kata tidak lagi membela kebatilan, tetapi membela tauhid. Inilah transformasi besar dalam sejarah kebudayaan Arab.
Rasulullah ﷺ memahami bahwa perjuangan tidak hanya terjadi secara fisik. Ada pula perang gagasan, persepsi, dan moral. Musuh Islam sering menyerang dengan ejekan dan propaganda. Maka dibutuhkan pembelaan di ranah bahasa. Para sahabat yang ahli sastra tampil di garis depan wacana. Mereka menjaga kehormatan Nabi dan umat dengan kata yang bermartabat. Dakwah pun menjangkau ruang publik yang lebih luas.
Tokoh paling menonjol adalah Hassān bin Tsābit رضي الله عنه. Ia dikenal sebagai penyair resmi Rasulullah ﷺ. Perannya strategis dalam membela Islam dari serangan verbal Quraisy. Ia menjadikan syair sebagai benteng ideologis umat. Bahasa yang dulu untuk kebanggaan suku ia arahkan untuk meninggikan risalah. Dengan demikian sastra menjadi bentuk jihad kultural. Membela kebenaran tidak selalu dengan senjata. Ungkapan cinta nyata dalam bait syair Ḥassān:
أَهَجَوْتَ مُحَمَّدًا فَأَجَبْتُ عَنْهُ
وَعِنْدَ اللَّهِ فِي ذَاكَ الْجَزَاءُ
أَتَهْجُوهُ وَلَسْتَ لَهُ بِكُفْءٍ
فَشَرُّكُمَا لِخَيْرِكُمَا الْفِدَاءُ
“Engkau mencela Muhammad, maka aku membelanya,
dan di sisi Allah-lah balasannya.
Engkau mencelanya padahal tak sepadan dengannya,
yang buruk dari kalian jadi tebusan bagi yang terbaik.”
Tokoh kedua adalah ‘Abdullāh bin Rawāḥah رضي الله عنه. Ia bukan hanya penyair, tetapi juga panglima dan mujahid. Puisinya membangkitkan semangat iman dan keberanian. Ia menulis untuk meneguhkan jiwa, bukan mencari pujian. Kata-katanya menguatkan sahabat di saat genting. Ia membuktikan kesetiaan itu dengan pengorbanan. Di sini terlihat kesatuan antara kata dan perbuatan. Semangat jihad dalam bait Ibn Rawāḥah:
يَا نَفْسُ إِلَّا تُقْتَلِي تَمُوتِي
هَذَا حِمَامُ الْمَوْتِ قَدْ صُلِيتِ
وَمَا تَمَنَّيْتِ فَقَدْ أُعْطِيتِ
إِنْ تَفْعَلِي فِعْلَهُمَا هُدِيتِ
“Wahai jiwaku, jika engkau tak gugur engkau pasti mati,
inilah kematian, engkau telah merasakannya.
Apa yang kau cita-citakan kini telah diberikan,
jika kau meneladani mereka, engkau akan mendapat petunjuk.”
Ketiga, Ka‘b bin Zuhayr رضي الله عنه memberi teladan bagaimana seni menjadi jalan taubat. Ia semula memusuhi Islam dengan syairnya. Ketika hidayah datang, ia mengubah arah bahasanya. Bahasa yang dulu melawan kini memuliakan. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dengan kerendahan hati. Keindahan kata menjadi saksi perubahan jiwa. Seni pun menjadi jalan kembali kepada Tuhan. Inilah bait karya Ka‘b bin Zuhayr:
بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِي الْيَوْمَ مَتْبُولُ
مُتَيَّمٌ إِثْرَهَا لَمْ يُفْدَ مَكْبُولُ
وَمَا سُعَادُ غَدَاةَ الْبَيْنِ إِذْ رَحَلُوا
إِلَّا أَغَنُّ غَضِيضُ الطَّرْفِ مَكْحُولُ
“Su‘ād telah pergi, dan hatiku kini terluka,
tergila-gila mengikutinya, terbelenggu tak tersembuhkan.
Su‘ād di pagi perpisahan itu,
laksana gadis bermata teduh dan memikat.”
Keempat, al-Khansā’ رضي الله عنها, mewakili penyair perempuan. Ia dikenal dengan syair ratapan yang menyentuh. Setelah Islam, puisinya menjadi sarana kesabaran dan iman. Ia tidak larut dalam putus asa. Ketika anak-anaknya gugur sebagai syuhada, ia tetap tegar. Seni membentuk keteguhan spiritual. Sastra menjadi jalan penguatan jiwa. Berikut bait syair al-Khansā’:
يُذَكِّرُنِي طُلُوعُ الشَّمْسِ صَخْرًا
وَأَذْكُرُهُ لِكُلِّ غُرُوبِ شَمْسِ
وَلَوْلَا كَثْرَةُ الْبَاكِينَ حَوْلِي
عَلَى إِخْوَانِهِمْ لَقَتَلْتُ نَفْسِي
“Terbitnya matahari mengingatkanku pada Shakhr,
dan setiap terbenamnya pun aku mengingatnya.
Andai tak banyak orang menangis di sekitarku,
niscaya aku telah membunuh diriku sendiri.”
Empat sahabat penyair ini menunjukkan bahwa Islam ramah terhadap budaya. Islam tidak mematikan kreativitas, tetapi memberi arah. Seni tidak dibiarkan tanpa nilai. Ia diarahkan untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Dengan begitu budaya menjadi sarana peradaban. Inilah wajah Islam yang mencerahkan. Sastra menjadi bagian dari dakwah yang halus namun kuat.
Dalam konteks modern, teladan ini sangat relevan. Kita hidup di zaman banjir kata. Media sosial penuh narasi, tetapi sering miskin nilai. Kita butuh generasi yang sadar bahwa bahasa adalah amanah. Menulis dan berbicara harus bertanggung jawab. Kata harus membawa kebenaran dan empati. Inilah pelajaran utama dari sastra sahabat Nabi.
Pendidikan bahasa tidak boleh berhenti pada teknik. Ia harus menanamkan etika dan keberpihakan. Murid perlu diajak memahami bahwa kata bisa menyelamatkan atau melukai. Sastra melatih empati dan keberanian moral. Di situlah lahir warga yang beradab. Guru menjadi teladan dalam berbahasa. Inilah makna sastra profetik dalam dunia pendidikan.
Maka perjuangan Islam memang tidak hanya hidup di mimbar dan medan perang. Ia juga hidup dalam pena, puisi, dan pikiran yang jernih. Para sahabat penyair Nabi ﷺ telah mencontohkan hal itu. Mereka menjadikan kata sebagai jalan peradaban. Mereka membuktikan bahwa seni yang beriman adalah kekuatan. Dari mereka kita belajar bahwa bahasa bisa menyelamatkan. Dan dengan bahasa yang benar, dunia bisa diubah. (*)














