SERANG, PUBLISIA.ID – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang, Yurlena Rahman, menilai kondisi pariwisata di kawasan pantai Kabupaten Serang pada tahun 2026 berpotensi sedikit lebih menantang dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut disampaikannya saat menanggapi perbandingan jumlah kunjungan wisatawan antara tahun 2025 dan 2026.
Yurlena yang juga menjabat sebagai General Manager Hotel Pesona Krakatau mengatakan, berdasarkan informasi dari para pelaku hotel yang tergabung dalam PHRI, tren kunjungan wisatawan pada awal tahun 2026 sebenarnya menunjukkan kondisi yang cukup positif, bahkan sempat lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pada awal tahun, khususnya Januari, kondisinya cukup baik. Bahkan bisa dibilang lebih bagus dibandingkan tahun sebelumnya. Namun memasuki Maret, apalagi bertepatan dengan bulan puasa, biasanya memang terjadi penurunan. Itu sudah menjadi tren setiap tahun,” ujar Yurlena saat disambangi di Hotel Pesona Krakatau, Sabtu (7/3/2926).
Meski demikian, Yurlena optimistis jumlah kunjungan wisatawan akan kembali meningkat setelah masa libur Lebaran hingga akhir tahun. Menurutnya, periode pasca-Lebaran biasanya menjadi momentum kebangkitan sektor pariwisata, khususnya di kawasan wisata pantai.
Namun ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi, terutama terkait persepsi negatif terhadap kawasan wisata pantai.
Wilayah Pantai Anyer, kata dia, kerap diterpa isu yang kurang baik menjelang musim liburan, seperti kekhawatiran terhadap gelombang tinggi atau potensi bencana alam.
Padahal, menurutnya, kejadian tersebut tidak terjadi setiap saat dan pemberitaan yang terus diulang dapat memengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung.
“Kadang wisata pantai Anyer ini selalu diterpa isu yang kurang baik menjelang Lebaran, seperti soal gelombang tinggi atau tsunami. Padahal itu kejadian yang sudah lama. Kalau terus diangkat kembali, tentu bisa memengaruhi minat wisatawan untuk datang,” jelasnya.
Selain faktor isu, kondisi ekonomi juga diperkirakan menjadi tantangan bagi sektor pariwisata pada tahun 2026. Yurlena menilai menurunnya daya beli masyarakat dapat berdampak pada keputusan masyarakat untuk berlibur.
Meski demikian, Yurlena meyakini kebutuhan masyarakat terhadap wisata tidak akan pernah hilang. Setelah menjalani rutinitas kerja yang padat, masyarakat tetap membutuhkan waktu untuk berlibur dan menyegarkan pikiran.
“Bagaimanapun orang tetap membutuhkan hiburan dan wisata. Setelah rutinitas kerja dari Senin sampai Sabtu bahkan lebih, mereka pasti butuh tempat untuk refreshing,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah tetap memberikan dukungan terhadap sektor perhotelan dan pariwisata yang telah menjadi bagian penting dalam perekonomian daerah. Menurutnya, investasi di sektor hotel dan pariwisata cukup besar serta mampu menyerap banyak tenaga kerja.
PHRI Kabupaten Serang, lanjutnya, juga terus mendorong kolaborasi antara pelaku usaha hotel, pengelola destinasi wisata, dan pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi pariwisata di kawasan Anyer. Saat ini, sejumlah objek wisata baru mulai bermunculan di wilayah tersebut yang diharapkan dapat meningkatkan lama tinggal wisatawan.
“Kami melihat sekarang mulai muncul objek wisata baru. Ini tentu bagus, karena wisatawan yang tadinya hanya menginap satu malam bisa tinggal lebih lama dan mengunjungi beberapa tempat wisata sekaligus,” ujarnya.
Meski fasilitas wisata dinilai sudah cukup lengkap, Yurlena menilai kawasan pantai di Kabupaten Serang masih membutuhkan pengembangan pada sektor wisata kuliner dan pusat belanja. Kehadiran kawasan kuliner modern maupun brand makanan populer dinilai dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan.
“Kalau makanan sebenarnya sudah banyak, tapi wisatawan biasanya juga punya selera tertentu seperti brand kopi atau makanan tertentu. Harapannya nanti ada kawasan wisata kuliner atau pusat belanja yang lebih berkembang,” katanya.
Terkait momentum libur Lebaran, Yurlena menjelaskan puncak kunjungan wisatawan biasanya terjadi setelah hari raya. Berdasarkan pengalaman selama ini, lonjakan wisatawan mulai terasa sejak H+3 Lebaran.
Menurutnya, pada hari pertama dan kedua Lebaran masyarakat umumnya masih fokus bersilaturahmi dengan keluarga, sementara kegiatan wisata baru dilakukan beberapa hari setelahnya.
“Biasanya puncak kunjungan itu H+3 Lebaran sampai sekitar seminggu setelahnya. Karena pada saat itu masyarakat sudah selesai bersilaturahmi dan mulai memilih berlibur,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga berharap pemerintah daerah terus meningkatkan infrastruktur di kawasan wisata, seperti perbaikan jalan, penerangan, serta pengaturan lalu lintas saat musim liburan.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan informasi kepada publik agar tidak menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan bagi wisatawan.
“Kami berharap jika ada pengaturan lalu lintas seperti buka tutup jalan atau sistem ganjil genap, itu disampaikan dengan baik. Namun jangan sampai muncul kesan bahwa kawasan wisata ditutup, karena hal itu bisa berdampak pada pembatalan reservasi hotel,” ujarnya.
Yurlena menegaskan bahwa kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah sangat penting untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendorong peningkatan pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata. Dengan sinergi yang baik, ia optimistis kawasan pantai di Kabupaten Serang akan terus berkembang dan tetap menjadi destinasi favorit wisatawan. (dik)



















