Home / Opini

Kamis, 29 Januari 2026 - 11:41 WIB

Sastra dan Kritik Sosial: Teladan Sulayk al-Ghatafānī

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Dekan FKIP UNTIRTA

Sastra sejak awal peradaban tidak pernah netral. Ia selalu memihak: entah pada kekuasaan atau pada nurani. Dalam tradisi Arab, syair bukan sekadar hiburan, melainkan alat kritik sosial yang tajam. Penyair menjadi suara masyarakat—menyuarakan penderitaan, ketimpangan, dan harapan. Di sinilah sastra bertemu etika. Salah satu figur penting dalam jalur ini adalah Sulayk al-Ghatafānī, penyair yang hidup di masa transisi Jāhiliyah ke Islam.

Sulayk bernama lengkap Sulayk ibn Sulāqah al-Ghatafānī, berasal dari kabilah Ghatafān di wilayah Najd. Sebelum Islam, ia dikenal sebagai bagian dari golongan ṣa‘ālīk—kaum pinggiran yang hidup keras, miskin, namun merdeka. Mereka sering dipandang sebagai “perampok”, tetapi sesungguhnya juga simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sosial. Dalam diri Sulayk, sastra lahir dari lapar, kesepian, dan harga diri.

Pengalaman hidup di pinggiran menjadikan puisinya bernada jujur dan tajam. Ia tidak menyanjung kabilah atau kekuasaan, tetapi menyanjung martabat manusia. Ia menulis bukan dari istana, melainkan dari pasir dan malam. Sastra baginya adalah kesaksian hidup. Ketika Islam datang, suara itu tidak padam, justru menemukan arah moral yang lebih tinggi.

Riwayat menyebut Sulayk kemudian memeluk Islam dan menjadi sahabat Nabi ﷺ. Ini bukan sekadar perubahan agama, tetapi perubahan orientasi hidup. Jika sebelumnya keberanian dipakai untuk bertahan hidup, dalam Islam keberanian diarahkan untuk membela kebenaran. Syair tetap hidup, tetapi kini bermuatan iman. Sastra tidak lagi sekadar protes, melainkan nasihat sosial.

Baca Juga  Refleksi Jalan Terjal Pendidikan Guru Indonesia

Dalam Islam, sastra tidak dimatikan, tetapi disucikan niatnya. Sulayk menjadi contoh bagaimana seni bahasa bisa menjadi jalan dakwah. Ia tidak berdakwah dengan mimbar, melainkan dengan bait. Ia tidak menggurui, tetapi menyentuh kesadaran. Kata-katanya mengajak manusia berdiri tegak di hadapan kezaliman.

Salah satu tema utama dalam syair Sulayk adalah harga diri di tengah kemiskinan. Ia menolak anggapan bahwa fakir berarti hina. Dalam satu bait yang sering dinukil, ia berkata:

أُقَاسِي جُوعِي وَأَصُونُ نَفْسِي
وَأَحْمِلُ فِي الْفَقْرِ وَجْهًا كَرِيمَا

“Aku menahan laparku sambil menjaga kehormatanku,
dan dalam kefakiran kuangkat wajah yang tetap mulia.”

Bait ini bukan sekadar curahan perasaan, melainkan kritik sosial. Ia menolak sistem yang merendahkan orang miskin. Ia mengajarkan bahwa martabat tidak ditentukan harta, tetapi sikap. Dalam perspektif Islam, ini sejalan dengan prinsip inna akramakum ‘indallāhi atqākum. Sulayk menyuarakan tauhid sosial: kemuliaan di sisi Allah, bukan di sisi materi.

Tema lain yang kuat adalah keberpihakan pada keadilan. Sulayk menolak sikap diam terhadap kezaliman. Dalam salah satu ungkapannya:

وَلَسْتُ بِمَنْ يَغُضُّ الطَّرْفَ عَنْ حَقِّهِ
إِذَا مَا رَأَى فِي الْحَقِّ نَقْصًا وَجَوْرَا

“Aku bukan orang yang memalingkan pandang dari haknya,
bila kulihat dalam kebenaran ada pengurangan dan kezaliman.”

Di sini, sastra berfungsi sebagai kontrol sosial. Sulayk mengingatkan bahwa diam terhadap ketidakadilan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nurani. Islam kemudian menguatkan sikap ini melalui konsep amar ma‘ruf nahi munkar. Puisi Sulayk menjadi selaras dengan etos profetik: membela yang tertindas.

Baca Juga  Guru Penjaga Moral Bangsa

Perpaduan antara pengalaman Jāhiliyah dan nilai Islam membuat karya Sulayk unik. Ia tetap keras dalam bahasa, tetapi lembut dalam tujuan. Ia tetap lugas, tetapi bermoral. Ia tidak kehilangan identitas sastranya, justru menemukan makna baru. Inilah contoh bagaimana tradisi lokal bertemu wahyu tanpa harus saling mematikan.

Dalam konteks pendidikan, Sulayk relevan sebagai teladan literasi kritis. Murid diajak membaca sastra bukan hanya untuk menikmati rima, tetapi untuk memahami realitas. Sastra melatih empati, keberanian berpikir, dan keberpihakan pada keadilan. Sulayk menunjukkan bahwa satu bait bisa lebih tajam dari seribu pidato.

Di tengah dunia modern yang sering bising namun hampa makna, teladan Sulayk mengingatkan kita bahwa kata harus punya arah. Sastra tanpa etika mudah menjadi propaganda. Sebaliknya, sastra yang beriman menjadi cahaya. Ia menuntun manusia agar tidak hanya cerdas, tetapi juga berani dan bermartabat.

Maka, Sulayk al-Ghatafānī bukan sekadar penyair masa lalu. Ia adalah simbol bahwa sastra adalah suara nurani sosial. Dari pasir Najd hingga ruang kelas hari ini, bait-baitnya mengajarkan satu hal: bahwa keindahan bahasa harus berpihak pada kebenaran. Di tangan orang seperti Sulayk, kata berubah menjadi amal, dan syair menjadi jalan peradaban. (*)

Share :

Baca Juga

Opini

Empat Penyair Sahabat Nabi Muhamad

Opini

Ketika Keserakahan Manusia Menjelma Bencana Mematikan

Opini

Predictive History: Membaca Visi Geopolitik Awal Islam Era Makkah

Opini

Muhammad dan Kontra Geopolitik Global

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Pemimpin Sezaman

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Ahli Kitab

Opini

Meniru Bahtera Peradaban Nabi Nuh

Opini

Zona Abu-abu Hukum di Indonesia