Oleh Abdul Jabar
Setiap kali kita menyebut banjir besar dan longsor sebagai bencana alam, sebenarnya kita sedang meredam rasa bersalah dengan dusta yang sudah terlalu sering diulang. Kita menunjuk hujan sebagai biang kerok, seolah-olah langit tiba-tiba kejam tanpa alasan. Padahal alam hanya bekerja sesuai nalurinya ‘jujur yang penuh tipu daya justru manusianya.
Tapi sebelum bicara tentang kesalahan, mari bicara tentang mereka yang menanggung akibatnya. Ada keluarga yang semalaman menggigil di atap rumah sambil menahan ketakutan yang tidak pernah mereka pesan. Ada ibu yang kehilangan dapur tempat ia menanak nasi setiap pagi. Ada anak-anak yang kehilangan buku sekolah mereka, hanyut bersama arus yang mengaburkan masa depan mereka.
Ada orang yang kehilangan rumah dan sanak keluarganya, ada orang tua yang hanya bisa pasrah melihat sawah seumur hidupnya hilang dalam satu malam. Mereka tidak sedang dramatik, mereka sedang hancur dan mereka tidak pantas membayar harga dari keputusan yang tidak pernah mereka buat. Mereka itulah korban. Mereka manusia dan tidak ada kalimat ‘namanya juga bencana alam’ yang cukup kuat untuk menghapus rasa sakit mereka.
Namun jika sudah menyentuh soal penyebab, maka empati harus berhenti di situ. Karena banjir di Sumatra, Jawa Barat, Banten dan di wilayah Indonesia lainnya. itu? Tidak pantas disebut bencana alam. Terlalu banyak jejak tangan manusia, terlalu jelas arah jejaknya. Hujan hanya mengetuk pintu. Manusia yang membuka semua kuncinya.
Kita membabat hutan tanpa peduli, seolah bumi ini supermarket besar tanpa kasir. Kita mengoyak tanah, lalu bingung kenapa ia berubah menjadi lumpur yang menyerbu rumah kita. Kita mengurung sungai, mempersempit jalurnya, lalu menyalahkan langit ketika air mencari jalan pulang dengan cara yang paling brutal.
Dan ketika bencana datang, tiba-tiba semua aktor merasa suci. Pejabat yang menandatangani izin mulai bicara tentang ‘musibah tak terduga’.Pengusaha yang mengantongi keuntungan mulai hilang dari radar. Oknum yang memuluskan jalan membuka lahan illegal tiba-tiba pandai memberi belasungkawa. Mereka yang selama ini mengambil untung, mendadak berperan sebagai pendoa paling tekun. Padahal yang menebang itu manusia, yang membiarkan itu manusia, yang diam saat alam dirampas itu juga manusia dan ironinya: yang paling keras menangis saat dihantam bencana pun tetap manusia, hanya saja mereka bukan para pelaku, melainkan korban dari sistem yang sudah lama disusun dengan rapi untuk menguntungkan segelintir pihak.
Yang lebih pahitnya lagi; para pelaku sering sembunnyi di balik kalimat murahan, ‘Kami turut prihatin’. Prihatin dari balik kursi empuk, dari balik dokumen yang mereka sendiri stempel, dari balik air mata yang tidak pernah benar-benar jatuh. Sementara korban? Mereka kehilangan rumah, bukan reputasi. Mereka kehilangan hidup, bukan elektabilitas. Mereka kehilangan masa depan, bukan kursi rapat. Dan ketika ada yang bertanya ‘siapa yang bertanggung jawab?’, jawabannya bukan teka-teki.
Kita hanya terlalu sopan untuk menyebut nama. Bencana alam memang bisa tiba kapan saja. Tapi bencana ekologis? Itu bukan kejutan. Itu bukan takdir. Itu proyek panjang manusia, dibangun dengan ketamakan, dipertahankan dengan kepura-puraan, dan disebarkan dengan kebohongan berjamaah.
Alam hanya melakukan apa yang selalu ia lakukan yaitu menyeimbangkan kembali apa yang manusia rusak. Jika caranya terlihat kejam, itu hanya karena skala kerusakan yang kita lakukan jauh lebih kejam dari yang kita akui.
Dan di tengah semua ini, korban tetap harus hidup. Mereka harus memulai lagi dari tanah basah, dari rumah yang retak, dari memori yang hanyut. Mereka yang paling lelah, tapi diminta paling cepat bangkit. Sementara para pelaku? Mereka sibuk merapikan narasi, bukan memperbaiki kerusakan. Keserakahan sebagai Sumber Kerusakan Lingkungan
Mari Kita Hargai Alam
Di setiap bencana besar banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi, erupsi gunung, hingga elombang panas ekstrem—kita sering terjebak dalam dua pertanyaan klasik: apakah ini semata fenomena alam, akibat keserakahan manusia, atau pertanda murka Tuhan? Pertanyaan ini penting, bukan hanya untuk mencari makna, tetapi untuk membongkar akar persoalan yang sengaja ditutup-tutupi para penguasa dan pemilik modal. Bencana muncul bukan karena kita kekurangan pengetahuan, teknologi, atau regulasi. Kita hancur karena elite politik memilih tunduk pada kapitalisme rakus yang mengabaikan keselamatan rakyat.
Kerusakan alam yang semakin parah di berbagai penjuru dunia bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan krisis moral dan spiritual. Banjir, longsor, kekeringan, pencemaran air dan udara, hingga perubahan iklim merupakan dampak nyata dari perilaku manusia yang serakah, eksploitatif, dan mengabaikan nilai tanggung jawab.
Dalam dua dekade terakhir, bencana ekologis semakin sering terjadi . Banjir bandang yang menghancurkan rumah penduduk, tanah longsor yang menyapu permukiman, kekeringan yang mematikan sumber pangan, hingga polusi udara yang menggerogoti kesehatan manusia. Semua peristiwa ini bukan lagi fenomena biasa, alam seolah sedang mengirimkan sinyal bahwa ada masalah ekologis karena ulah manusia.
Kalau kita mau belajar dan mencontoh Masyarakat adat Baduy, yang tinggal di kawasan pegunungan Kendeng di Kabupaten Lebak, Banten, dikenal memiliki cara hidup yang sangat menjaga keseimbangan alam. Mereka menjalankan tradisi dan kepercayaan yang diwariskan turun-temurun. Cara-cara unik mereka dalam berinteraksi dengan alam juga mencakup upaya mitigasi bencana. Meskipun hidup tanpa teknologi modern, masyarakat Baduy memiliki pengetahuan lokal yang sangat kaya untuk menghadapi potensi bencana alam seperti banjir, longsor, dan kekeringan.
Masyarakat adat Baduy memiliki aturan ketat dalam menjaga hutan yang disebut sebagai pikukuh. Hutan dianggap sebagai sumber kehidupan yang harus dilestarikan. Mereka memiliki zona hutan yang tidak boleh diganggu, dikenal sebagai hutan larangan. Dengan menjaga hutan tetap lestari, masyarakat Baduy secara tidak langsung melakukan mitigasi terhadap bencana seperti banjir dan tanah longsor. Pepohonan yang rimbun membantu menyerap air hujan, mengurangi risiko banjir, dan menahan tanah agar tidak mudah longsor.
Bagi masyarakat adat Baduy, menghormati alam bukan sekadar bentuk kepercayaan, tetapi juga strategi mitigasi yang efektif. Mereka percaya bahwa segala bencana merupakan bentuk ketidakseimbangan alam akibat perbuatan manusia. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha menjaga alam agar tetap seimbang melalui ritual adat dan praktik sehari-hari. Pendekatan ini menjadikan masyarakat Baduy sebagai contoh nyata bagaimana kearifan lokal dan cara hidup yang selaras dengan alam dapat menjadi strategi mitigasi bencana yang efektif dan berkelanjutan.
Dengan cara-cara ini, masyarakat adat Baduy berhasil melindungi lingkungan mereka dan secara tidak langsung meminimalkan dampak bencana alam, meski tanpa bantuan teknologi modern.
Kesimpulan
Tragedi bencana banjir dan longsor di berbagai wilayah Indonesia adalah peringatan paling keras bahwa ekonomi tidak boleh mengalahkan ekologi. Setiap tebangan pohon ilegal di lereng adalah benih bencana yang kita tanam sendiri.
Bukankah Islam mengingatkan, akar dari banyak kerusakan ini adalah fasad yaitu kerusakan yang dilakukan manusia karena ketamakan. Al-Qur’an menyatakan dengan sangat tegas mengenai hal ini.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia…” (QS. ar-Rum ayat 41)
Ayat ini bukan hanya peringatan teologis, tetapi juga analisis ekologis yang sangat relevan untuk zaman modern. Kerusakan di darat: hutan ditebang, tanah longsor, krisis air. Kerusakan di laut: sampah plastik, pencemaran minyak, terumbu karang rusak. Semuanya bukan fenomena alam semata, melainkan konsekuensi dari perilaku manusia.
Kini, kita harus bergerak lebih bukan sekadar berempati. Duka ini harus menjadi momentum kolektif untuk bertindak, yakni: Rehabilitasi lahan kritis, dimana Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dalam program penanaman pohon kembali (reboisasi), terutama di daerah tangkapan air dan lereng-lereng yang rawan. Pohon adalah investasi keselamatan, bukan sekadar komoditas.
Penegakan hukum tegas, dimana tindakan perusakan hutan, penebangan liar, dan alih fungsi lahan yang ceroboh harus dihukum seberat-beratnya untuk memberikan efek jera. Kesadaran komunitas, dimana masyarakat yang tinggal di sekitar lereng harus dididik untuk menjadi penjaga pertama bagi hutan mereka.
Bentang alam Indonesia adalah harta tak ternilai yang diwariskan. Jika kita terus memperlakukannya sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi tanpa batas, alam akan membalas dengan caranya sendiri melalui bencana mematikan yang tidak mengenal kompromi.
Mari kita mulai tanam, jaga, dan rawat alam ini. Karena di setiap akar pohon yang menancap ke bumi, ada harapan bagi keselamatan anak cucu kita. (*)
Penulis adalah Aktivis Muda Nahdlatul Ulama, dan Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Kemandirian Nusantara Banten Pandeglang













