Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Dekan FKIP UNTIRTA
Sejarah kenabian Muhammad saw. tidak hanya dicatat oleh para sahabat, tetapi juga oleh para pemimpin dunia sezamannya. Sebagaimana Nabi Sulaiman berkirim surat kepada Ratu Balqis di Negeri Saba sebagai seruan tauhid, Nabi Muhammad saw. pun menjalin korespondensi dengan para penguasa besar untuk mengajak manusia kepada Allah. Langkah ini menegaskan bahwa Islam sejak awal hadir sebagai risalah universal. Dakwah tidak berhenti pada batas kabilah atau jazirah. Ia melintasi ruang geopolitik dunia. Para raja dan pemimpin menjadi saksi pertama dari pesan profetik itu. Di antara mereka, Heraklius dan Muqauqis menempati posisi penting dalam sejarah kesaksian nubuwah.
Korespondensi Nabi dengan para pemimpin dunia terjadi setelah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriah. Perjanjian ini membuka ruang stabilitas politik bagi kaum Muslimin. Pada tahun 7 Hijriah, Rasulullah saw. mulai mengutus para sahabat sebagai duta ke berbagai negeri. Mereka membawa surat resmi bertandatangan Nabi. Isi surat itu singkat, tetapi tegas: ajakan bertauhid dan tunduk kepada Allah. Inilah diplomasi profetik pertama dalam sejarah Islam. Islam tampil sebagai agama sekaligus peradaban.
Surat kepada Heraklius, Kaisar Romawi Timur, dikirim sekitar tahun 7 H/628 M. Saat itu Heraklius sedang berada di wilayah Syam, tepatnya di Yerusalem (Iliya). Ia baru saja meraih kemenangan atas Persia dan menunaikan nazar. Surat Nabi dibacakan di hadapannya. Heraklius tidak menolaknya dengan kasar. Ia justru tertarik pada identitas pengirimnya. Ia ingin tahu: siapakah Muhammad yang berani mengirim surat kepada Kaisar Romawi.
Untuk itu, Heraklius mencari saksi dari bangsa Arab. Kebetulan, rombongan Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan sedang berada di Syam dalam urusan dagang. Heraklius memanggil mereka ke istana. Ia menempatkan Abu Sufyan di depan dan rombongannya di belakang. Jika Abu Sufyan berdusta, yang di belakang harus membantah. Metode ini menunjukkan cara kritis dan ilmiah Heraklius dalam mencari kebenaran. Ia tidak ingin menerima informasi sepihak.
Pertanyaan Heraklius sangat sistematis. Ia bertanya tentang nasab Muhammad, kejujurannya, akhlaknya sebelum kenabian, para pengikutnya, dan konsistensi ajarannya. Abu Sufyan terpaksa menjawab dengan jujur. Ia mengakui bahwa Muhammad berasal dari keturunan mulia, tidak pernah berdusta, dan para pengikutnya justru terus bertambah. Ia juga mengakui bahwa mereka tetap setia meski mengalami tekanan. Semua jawaban itu justru menguatkan posisi Muhammad sebagai Nabi sejati. Heraklius mencocokkannya dengan nubuat dalam Injil.
Dalam hatinya, Heraklius—seorang negarawan yang juga sarjana Injil—meyakini bahwa Muhammad adalah Nabi yang dijanjikan. Ia berkata, “Jika yang kamu katakan benar, maka dia adalah Nabi.” Ia bahkan mengakui bahwa suatu saat risalah Muhammad akan menguasai wilayah tempat ia berpijak. Ini adalah kesaksian spiritual dan intelektual. Namun Heraklius berada dalam dilema. Ia tahu kebenaran, tetapi ia juga seorang Kaisar. Kekuasaan menjadi tembok yang menghalanginya untuk beriman secara terbuka.
Heraklius sempat menguji para pembesar Romawi. Ia mengumpulkan mereka dan mengisyaratkan kemungkinan mengikuti Nabi. Ketika mereka marah dan menolak, Heraklius menarik diri. Ia memilih stabilitas politik daripada keberanian iman. Ia berhenti pada pengakuan batin, tidak sampai pada komitmen. Sejarah mencatat Heraklius sebagai saksi nubuwah yang terhenti di batas kekuasaan.
Selain Heraklius, Muqauqis—penguasa Mesir di bawah kekuasaan Bizantium—juga menerima surat Nabi sekitar tahun 7 Hijriah. Utusan Nabi kepadanya adalah Hatib bin Abi Balta’ah. Muqauqis menerima surat itu dengan sopan. Ia membacanya dengan penuh perhatian. Ia berdialog panjang dengan utusan Nabi tentang Islam dan kenabian Muhammad. Sikap awalnya menunjukkan keterbukaan intelektual.
Muqauqis mengakui dalam hati bahwa Muhammad adalah Nabi yang dijanjikan. Ia mengetahui tanda-tanda kenabian itu dari tradisi kitab suci. Namun ia juga terikat oleh struktur politik Romawi. Ia khawatir kehilangan kekuasaan jika beriman secara terbuka. Maka ia memilih jalan aman. Ia menghormati Nabi, tetapi tidak mengikutinya secara resmi.
Muqauqis membalas surat Nabi dengan bahasa diplomatik yang halus. Ia mengirim hadiah kepada Rasulullah saw. sebagai bentuk penghormatan. Di antaranya adalah Maria al-Qibthiyyah. Sikap ini menunjukkan pengakuan etis dan moral, tetapi belum sampai pada pengakuan iman. Muqauqis menjadi saksi nubuwah di tingkat rasional. Namun tembok politik menahannya dari keberanian spiritual.
Dari Heraklius dan Muqauqis tampak pola yang sama. Keduanya adalah pemimpin berilmu. Keduanya mampu membaca tanda-tanda kenabian dengan jernih. Keduanya tahu bahwa Muhammad bukan tokoh biasa. Namun keduanya juga terikat oleh kepentingan kekuasaan. Mereka memilih aman secara politik, meski gelisah secara nurani. Inilah drama iman dalam sejarah kepemimpinan.
Kesaksian mereka membuktikan bahwa nubuwah Muhammad saw. diakui bahkan oleh pemimpin non-Muslim yang berilmu. Kenabian beliau bukan sekadar klaim internal umat Islam. Ia diakui oleh penguasa, oleh sarjana Injil, dan oleh tokoh dunia pada zamannya. Dunia abad ke-7 sedang menyaksikan lahirnya peradaban tauhid. Heraklius dan Muqauqis berdiri sebagai saksi sejarah itu.
Sejarah menunjukkan bahwa mengetahui kebenaran tidak otomatis berarti mengikutinya. Kesaksian intelektual dua raja itu tidak menembus hidayah menjadi keberanian iman. Heraklius dan Muqauqis tahu, tetapi berhenti di ambang. Muhammad saw. tetap melangkah membawa cahaya risalah. Dan cahaya itu akhirnya menembus tembok-tembok politik yang dulu menghalangi. Tinggal kita hari ini: apakah menjadi saksi pasif, atau pengikut yang berani melangkah bersama kebenaran? Wallahu a’lam.














