Home / Opini

Minggu, 18 Januari 2026 - 22:44 WIB

Muhammad Dalam Kesaksian Ahli Kitab

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Dekan FKIP UNTIRTA

Sejarah kenabian ibarat mata rantai ilahiah yang menghubungkan langit dan bumi. Dari Adam hingga Muhammad, risalah turun untuk menjaga arah kemanusiaan. Para nabi tidak datang saling meniadakan, tetapi saling menyempurnakan. Pesan mereka satu: tauhid, keadilan, dan kasih sayang. Karena itu, kehadiran Muhammad bukan kejutan sejarah. Ia adalah jawaban atas penantian panjang umat manusia. Cahaya kenabian tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dalam perjalanan waktu yang penuh makna. Mata rantai itu menyambungkan wahyu dengan realitas.

Di masa sebelum Islam dikenal luas, para pendeta dan rahib Ahli Kitab membaca tanda-tanda zaman. Mereka menelaah Taurat dan Injil dengan kesungguhan ilmiah. Mereka mencari ciri nabi akhir zaman dengan akal yang jernih. Harapan itu tumbuh dalam ruang ibadah yang sunyi. Dunia saat itu lelah oleh berhala dan ketidakadilan. Mereka menunggu utusan pembaru moral. Harapan itu tidak dibatasi wilayah atau etnis. Ia menyeberang benua dan budaya. Penantian itu bersifat spiritual dan intelektual.

Salah satu saksi awal itu adalah pendeta Bahira di Busra, Syam. Ia bertemu Muhammad muda dalam kafilah Abu Thalib. Bahira melihat tanda kenabian pada dirinya. Ia membaca keteduhan akhlak dan arah hidupnya. Ia melihat perlindungan Ilahi pada diri anak itu. Bukti baginya bukan sensasi lahiriah. Bukti itu adalah karakter yang konsisten. Kebenaran dikenali dari kepribadian pembawanya. Bahira menjadi saksi lintas iman atas cahaya risalah.

Mata rantai itu dikuatkan oleh Waraqah bin Naufal. Ia sepupu Khadijah dan seorang hanif. Ia mendalami Taurat dan Injil secara serius. Ketika Muhammad pulang dari Hira dengan hati bergetar, Waraqah mendengarkannya. Ia berkata bahwa yang datang adalah Namus seperti kepada Musa. Ia melihat pola kenabian yang sama. Bukti baginya adalah kesesuaian pengalaman wahyu. Ia memahami sejarah kenabian secara ilmiah. Waraqah menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Baca Juga  Mulia Bersama Al-Qur’an

Waraqah juga menubuatkan bahwa Muhammad akan didustakan. Ia mengatakan bahwa setiap nabi diuji oleh kaumnya. Ia berharap bisa hidup untuk membela risalah itu. Bukti keaslian kenabian baginya bukan kemudahan. Bukti itu adalah keteguhan dalam tekanan. Kebenaran selalu diuji sebelum diterima. Penolakan justru menguatkan keaslian misi. Ini hukum sejarah para nabi. Waraqah memahami sunnatullah dalam dakwah.

Di luar Jazirah Arab, cahaya itu juga menyentuh Afrika. Raja Najasyi di Habasyah mendengar Al-Qur’an dibacakan. Ja‘far bin Abi Thalib membacakan kisah Maryam dan Isa. Air mata Najasyi mengalir tanpa ia sadari. Ia merasakan kesatuan sumber wahyu. Ia berkata bahwa Isa dan Muhammad berasal dari satu cahaya. Bukti baginya adalah kesatuan pesan tauhid. Injil dan Al-Qur’an bertemu dalam nur Ilahi. Hatinya tunduk kepada kebenaran.

Ketika tekanan di Makkah makin keras, Nabi pun hijrah ke Madinah. Hijrah adalah peristiwa spiritual dan sosial. Ia bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah perjumpaan antara risalah dan masyarakat pencari kebenaran. Madinah menyambut Nabi dengan kepercayaan. Kepercayaan itu lahir dari integritas. Mereka melihat kesatuan antara ucapan dan perbuatan. Bukti itu bernama kejujuran. Madinah menjadi laboratorium iman dan ilmu.

Di Madinah, Abdullah bin Salam tampil sebagai saksi penting. Ia seorang ulama Yahudi yang jujur. Saat melihat wajah Nabi, ia berkata itu bukan wajah pendusta. Ia menguji Nabi dengan pertanyaan ilmiah. Ia bertanya tentang tanda kiamat dan makanan ahli surga. Jawaban Nabi memuaskannya. Ilmu bertemu dengan wahyu. Bukti baginya adalah kecerdasan profetik. Iman lahir dari dialog antara akal dan nurani.

Setelah masyarakat Madinah tegak, datang rombongan pendeta Najran. Mereka berdialog dengan Nabi tentang Isa dan tauhid. Mereka melihat ketenangan dan keagungan akhlaknya. Mereka tidak dipaksa untuk beriman. Mereka diberi kebebasan dan perlindungan. Mereka menandatangani perjanjian damai. Bukti yang mereka lihat adalah etika kenabian. Keadilan Nabi menyentuh hati mereka. Islam hadir sebagai rahmat, bukan tekanan.

Baca Juga  Wahai Guru Honorer Bangkitlah!

Di luar lingkaran elite agama, pencari kebenaran juga berdatangan. Abu Dzar Al-Ghifari datang sendirian ke Makkah. Nama aslinya Jundub bin Junadah. Ia mendengar Al-Qur’an untuk pertama kali. Ia berkata itu bukan syair manusia. Hatinya disentuh oleh kekuatan bahasa wahyu. Fitrahnya terbangun oleh cahaya kebenaran. Bukti baginya adalah kejujuran pesan. Iman lahir dari pertemuan batin dan wahyu.

Salman Al-Farisi menempuh perjalanan panjang dari Persia. Ia belajar dari satu guru ke guru lain. Ia mencari nabi akhir zaman yang dijanjikan. Ia sampai ke Yatsrib dan bertemu Muhammad. Ia menguji dengan tiga tanda kenabian. Nabi menerima hadiah dan menolak sedekah. Ia melihat tanda kenabian di punggung Nabi. Semua cocok dengan nubuat gurunya. Salman bersujud dalam iman.

Dari Bahira, Waraqah, Najasyi, Abdullah bin Salam, pendeta Najran, Abu Dzar, dan Salman kita belajar. Mereka tidak beriman karena ikut-ikutan. Mereka beriman karena bukti. Bukti itu bersifat ilmiah dan spiritual. Mereka membaca kitab suci dengan jujur. Mereka membaca sejarah dengan cerdas. Mereka mengunjungi masa depan dengan visi. Iman mereka tumbuh dengan cahaya ilmu pengetahuan. Akal dan hati berjalan bersama.

Pada akhirnya, nubuwah Muhammad dalam kesaksian Ahli Kitab adalah pelajaran besar. Tuhan tidak meninggalkan manusia tanpa tanda. Cahaya ditebar di sepanjang sejarah. Tinggal manusia yang memilih menutup atau membuka hati. Iman tumbuh dari hati dan akal yang tercerahkan. Bukan taklid. Karena itu, bacalah kitab suci dengan jujur. Bacalah sejarah dengan akal sehat. Kunjungilah masa depan dengan visi iman. Iman akan tumbuh dengan cahaya ilmu pengetahuan. Itulah jalan peradaban yang diberkahi. Wallahu a’lam.

Share :

Baca Juga

Opini

Sastra dan Kritik Sosial: Teladan Sulayk al-Ghatafānī

Opini

Empat Penyair Sahabat Nabi Muhamad

Opini

Ketika Keserakahan Manusia Menjelma Bencana Mematikan

Opini

Predictive History: Membaca Visi Geopolitik Awal Islam Era Makkah

Opini

Muhammad dan Kontra Geopolitik Global

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Pemimpin Sezaman

Opini

Meniru Bahtera Peradaban Nabi Nuh

Opini

Zona Abu-abu Hukum di Indonesia