Home / Opini

Sabtu, 17 Januari 2026 - 18:25 WIB

Meniru Bahtera Peradaban Nabi Nuh

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Dekan FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Bahtera dalam esai ini bukan hanya perahu, melainkan simbol strategi penyelamatan peradaban. Nabi Nuh mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati bekerja sebelum bencana datang, bukan setelah segalanya runtuh. Visi ini relevan dengan pembangunan wilayah Indonesia yang rawan bencana banjir dan longsor akibat dari kerusakan lingkungan, tata kelola yang lemah, hingga kepemimpinan yang sering terlambat membaca tanda zaman. Ketika sungai meluap dan kota-kota lumpuh, kita sesungguhnya sedang diingatkan bahwa manusia tidak boleh arogan terhadap alam.

Al-Qur’an menggambarkan Nabi Nuh sebagai pemimpin yang teguh memegang nilai. Ia berdakwah ratusan tahun, namun pengikutnya tetap sedikit. Dalam Surah Hud ayat 37, Allah memerintahkannya membangun bahtera di bawah pengawasan-Nya. Perintah itu menandai bahwa proyek Nuh adalah proyek strategik, bukan reaktif. Ia tidak menunggu banjir tiba untuk bergerak. Ia membangun sistem penyelamatan jauh sebelum hujan turun. Inilah inti kepemimpinan visioner: bekerja untuk masa depan, bukan hanya untuk hari ini. Banyak pemimpin gagal karena sibuk memadamkan api, tetapi lupa membangun sistem pencegahan.

Dalam perspektif manajemen strategik, Nabi Nuh adalah contoh strategic foresight. Ia membaca ancaman lebih awal, ketika orang lain masih merasa aman. Masyarakat di sekitarnya belum melihat hujan, tetapi Nuh sudah melihat kehancuran jika tidak ada perubahan. Ia tidak menunggu bukti kasat mata untuk bertindak. Ia percaya pada peringatan dan mengubahnya menjadi kerja nyata. Di sinilah perbedaan antara pemimpin dan pengikut arus. Pemimpin melihat kemungkinan terburuk, lalu menyiapkan yang terbaik. Tanpa visi seperti ini, peradaban mudah tenggelam oleh kejutan-kejutan zaman.

Bahtera yang dibangun Nuh juga mencerminkan scenario planning. Ia menyiapkan diri untuk skenario terburuk: banjir besar yang memusnahkan segalanya. Ia tidak berharap pada keajaiban tanpa usaha. Dalam konteks kebencanaan hari ini, kita sering terjebak pada pola yang sama: bergerak setelah korban berjatuhan. Padahal, perencanaan strategik justru diuji sebelum krisis. Bahtera Nuh adalah sistem, bukan sekadar alat. Ia melindungi manusia, nilai, dan masa depan. Ia adalah simbol kesiapsiagaan peradaban.

Menariknya, Nabi Nuh bekerja dalam keterbatasan sumber daya. Pengikutnya sedikit, dukungan sosial nyaris tidak ada, dan ia bahkan diejek. Namun keterbatasan itu tidak melumpuhkan langkahnya. Ia memaksimalkan apa yang ada. Dalam manajemen modern, ini dikenal sebagai kemampuan mengelola sumber daya secara efektif dan kreatif. Keunggulan tidak selalu lahir dari kelimpahan, tetapi dari integritas dan komitmen. Banyak institusi hari ini gagal bukan karena miskin, melainkan karena kehilangan nilai. Nabi Nuh menunjukkan bahwa nilai adalah fondasi daya tahan.

Baca Juga  Guru Penjaga Moral Bangsa

Kepemimpinan Nabi Nuh juga ditandai oleh keteladanan. Ia tidak hanya memerintah, tetapi ikut bekerja membangun bahtera. Ia hadir di tengah proses, bukan hanya di mimbar. Inilah yang disebut leadership by example. Kepercayaan lahir dari konsistensi antara kata dan tindakan. Orang tidak digerakkan oleh retorika, tetapi oleh teladan. Tanpa keteladanan, strategi kehilangan daya dorong. Banyak pemimpin pandai berbicara, tetapi lemah dalam kerja. Nabi Nuh justru kuat dalam kerja dan rendah dalam pencitraan.

Selain itu, seluruh strategi Nabi Nuh berakar pada nilai dan amanah. Ia tidak mengorbankan prinsip demi kenyamanan sosial. Ia tetap berdiri di atas kebenaran meskipun sendirian. Dalam konteks kebangsaan, krisis kepemimpinan sering kali adalah krisis integritas. Kita membutuhkan pemimpin yang benar, bukan sekadar pintar. Nilai memberi arah pada kekuasaan. Tanpa nilai, strategi bisa menyimpang menjadi alat kepentingan sempit. Nabi Nuh memimpin dengan hati dan akal sekaligus, menyeimbangkan etika dan efektivitas.

Ketahanan Nabi Nuh juga mencerminkan strategic resilience. Ia berdakwah dan berjuang dalam waktu yang sangat panjang. Ia tidak berhenti meskipun hasilnya kecil. Dalam manajemen, ketahanan berarti konsisten dalam tekanan. Perubahan besar memang tidak instan. Nuh sabar dalam proses dan teguh dalam prinsip. Ia tidak tergoda jalan pintas. Ia memahami bahwa perubahan sejati bersifat bertahap. Ketahanan inilah yang menjaga arah strategi tetap lurus.

Yang lebih penting lagi, Nabi Nuh tidak berhenti pada wacana. Ia menerjemahkan visi ke dalam kerja teknis. Dalam bahasa manajemen, ini disebut strategy execution. Visi harus menjadi tindakan nyata. Nuh memastikan bahtera benar-benar selesai, bukan hanya direncanakan. Ia mengelola proses secara disiplin. Tanpa eksekusi, visi hanya mimpi. Banyak program pembangunan gagal karena berhenti di konsep. Nabi Nuh mengajarkan bahwa ide besar harus dibumikan dalam kerja kecil yang konsisten.

Tawakal Nabi Nuh bersifat aktif. Ia bekerja maksimal, lalu berserah kepada Allah. Ia tidak menggantungkan masa depan pada nasib. Dalam manajemen, ini berarti keseimbangan antara ikhtiar dan kepercayaan. Strategi membutuhkan usaha dan ketenangan batin. Tanpa ikhtiar, tawakal menjadi pasif. Tanpa tawakal, usaha menjadi kering dan arogan. Nabi Nuh memadukan keduanya secara utuh. Ia bekerja keras dan berdoa dalam.

Baca Juga  Belajar Tanpa Tembok: Dari Diskusi Ke Kolaborasi Aksi

Kisah Nabi Nuh sangat relevan dengan krisis ekologis hari ini. Banyak bencana terjadi karena manusia lalai membaca tanda-tanda alam. Nuh mengajarkan pentingnya peringatan dini. Ia membangun bahtera sebagai sistem penyelamatan. Di zaman sekarang, bahtera itu berupa kebijakan, pendidikan, dan tata kelola. Pembangunan harus berbasis keberlanjutan. Tanpa visi jangka panjang, kita hanya reaktif. Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tetapi sering kekurangan strategi ekologis yang konsisten.

Dalam konteks kebangsaan, kita membutuhkan “bahtera-bahtera” baru. Bahtera itu adalah sistem nilai dan institusi yang melindungi manusia dan alam. Pendidikan harus menjadi pusat pembentukan pemimpin visioner. Sekolah dan kampus bukan hanya mencetak tenaga kerja, tetapi membangun karakter strategik. Pemimpin masa depan lahir dari proses panjang. Nabi Nuh mengajarkan pentingnya konsistensi lintas generasi. Peradaban tidak dibangun dalam semalam. Ia dibangun oleh kesabaran kolektif.

Mindset Nabi Nuh sangat berbeda dengan mindset kaumnya yang kafir dan fasik. Nuh berpikir jangka panjang, kaumnya berpikir sesaat. Nuh membangun bahtera, kaumnya menertawakan risiko. Nuh percaya pada peringatan, mereka percaya pada ilusi. Nuh hidup dalam iman, mereka hidup dalam penyangkalan. Inilah benturan dua cara berpikir: satu menyelamatkan peradaban, satu menenggelamkan masa depan. Sejarah menunjukkan bahwa yang selamat adalah mereka yang taat pada nilai dan mau bersiap.

Masjid kampus memiliki peran strategik dalam membentuk mindset seperti Nuh. Masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi pusat peradaban. Di sanalah mahasiswa dilatih menjadi pemuda pelopor siaga bencana. Mereka terpaut secara spiritual, intelektual, dan sosial dengan masjid. Masjid kampus menjadi “bahtera nilai” bagi generasi muda. Dari masjid lahir relawan, peneliti, penggerak literasi, dan pemimpin lapangan. Mahasiswa tidak hanya saleh secara personal, tetapi tangguh secara sosial. Inilah peran masjid kampus se-Indonesia dalam menjaga masa depan bangsa.

Akhirnya, manajemen strategik Nabi Nuh mengajarkan visi, nilai, ketahanan, dan kerja nyata. Ia bukan hanya nabi, tetapi juga arsitek peradaban. Kepemimpinannya relevan lintas zaman. Di tengah krisis hari ini, kita membutuhkan mindset seperti Nuh. Mindset yang berani berbeda, sabar dalam proses, dan kuat dalam nilai. Bahtera peradaban harus dibangun sekarang, bukan nanti. Jika tidak, kita akan tenggelam bersama arus. Indonesia membutuhkan pemimpin, institusi, dan masjid kampus yang berfungsi seperti bahtera Nabi Nuh: melindungi manusia, alam, dan masa depan. Wallahu a’lam.

Share :

Baca Juga

Opini

Sastra dan Kritik Sosial: Teladan Sulayk al-Ghatafānī

Opini

Empat Penyair Sahabat Nabi Muhamad

Opini

Ketika Keserakahan Manusia Menjelma Bencana Mematikan

Opini

Predictive History: Membaca Visi Geopolitik Awal Islam Era Makkah

Opini

Muhammad dan Kontra Geopolitik Global

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Pemimpin Sezaman

Opini

Muhammad Dalam Kesaksian Ahli Kitab

Opini

Zona Abu-abu Hukum di Indonesia