Home / Opini

Senin, 25 Agustus 2025 - 11:39 WIB

Karakter Jawara Guru Peradaban

OLEH DR. H. FADLULLAH, S.Ag., M.Si.
Dekan FKIP UNTIRTA

Bangsa yang besar tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia dibangun oleh guru yang setia menyalakan api ilmu dan akal budi.

Namun, realitas hari ini menuntut lebih: guru bukan hanya pengajar, melainkan pemimpin peradaban.

Dari Banten, kita mengenal istilah jawara. Ia bukan sekadar pendekar bersenjata, tetapi juga sosok yang jujur dan adil, wibawa, amanah, religius dan akuntabel membela kebenaran.

Bayangkan bila karakter jawara ini hidup dalam diri seorang guru. Ia akan menjadi teladan yang menginspirasi, bukan sekadar instruktur pelajaran.

Inilah gagasan Sekolah Jawara Indonesia. Sebuah model pendidikan guru yang berpijak pada Pedagogi Pancasila dan berorientasi pada lahirnya pendidik dengan lima wajah: guru berkarakter, guru berilmu, guru terampil pedagogi, guru kreatif inovatif, dan guru pemimpin transformatif.

Baca Juga  Bukan Soal Indra dan Andra: Perbaiki Sekolah

Kurikulum sekolah ini tidak hanya berisi teori belajar, evaluasi, atau desain kurikulum.

Lebih dari itu, ia mengintegrasikan filsafat Pancasila, etika profesi, kepemimpinan, riset tindakan kelas, literasi digital, hingga pengabdian masyarakat.

Guru belajar di kelas, tapi juga turun ke desa, mengajar sambil melayani, meneliti sambil berinovasi.

Model pembelajaran yang dihidupkan pun kontekstual: project-based learning, service learning, blended learning digital, refleksi kritis, hingga pembelajaran berbasis budaya lokal.

Baca Juga  Tragedi Utsman: Kerja Politik Belah Bambu dan Politisasi Agama

Seorang guru jawara dididik agar mampu menuntun muridnya menghadapi dunia digital tanpa tercerabut dari akar budaya bangsa.

Pada akhirnya, guru peradaban adalah simbol gerakan kebudayaan.

Ia mendidik dengan hati, memimpin dengan teladan, mengajar dengan ilmu, dan berani menggerakkan masyarakat menuju perubahan.

Ketika guru berkarakter jawara, kelas tidak lagi sekadar ruang ujian, tetapi ruang hidup.

Pendidikan tidak lagi sekadar transfer pengetahuan, tetapi penanaman akal budi.

Bangsa ini akan melangkah lebih percaya diri karena dituntun oleh guru yang benar-benar menjadi cahaya peradaban.***

Share :

Baca Juga

Opini

Negara Berutang Pada Pesantren

Opini

Kiyai Kuat dan Bermartabat: Pilar Peradaban Banten

Opini

Serikat Dagang Pesantren: Dari Konsumen Menuju Penggerak Ekonomi Umat

Opini

SIKLUS SUKSES PESANTREN: Integrasi Filantropi, Keilmuan, dan Regenerasi Strategis

Opini

FSPP Banten: Mitra Strategis Pemerintah dalam Pembangunan

Opini

Menjemput Keberkahan: Integrasi Akuntansi dan Neraca Spiritual dalam Praktik Zakat pada Bulan Ramadan

Opini

Lima Tahun Pertama Dakwah Islam di Makkah

Opini

Ramadhan Bulan Kepedulian Pesantren MelaluiĀ  Keadilan Anggaran